Lagu ini enak gak..?

Sabtu, 17 Agustus 2013

The Dark Side of Internet




By : Ivan Indra Tangara

Internet sebenarnya berawal dari sisi gelap peradaban manusia, kenapa? Pertama kali internet diciptakan departemen pertahanan amerika untuk mengkalkulasi jarak dan akurasi proyektil altileri yang digunakan untuk perang, paling tidak dasarnya adalah itu. Maka sebenarnya teknologi komunikasi ini adalah bagian dari senjata pemusnah. Sampai akhirnya beberapa mahasiswa mengkonversinya untuk komunikasi dalam bidang pendidikan. Lalu berlanjut pada era 90' an sampai akhirnya tim bernea lee yang mendapat nobel berkat kreasinya tentang world wide web yang mengaplikasikan teknologi internet ini untuk bisa diakses dari belahan manapun di bumi selama memiliki akses jaringan, tanpa mengkomersilkan basis jaringan world wide web itu.

Beberapa tahun lalu seorang guru sosiologi yang setahu saya dia kristen ortodox bertanya pada sebuah kelas yang saya bermukim di dalamnya (kyak pengungsi aje). Tanpa membuka buku, coba jelaskan tentang teknologi. Akhirnya saya pun menjawab, teknologi adalah segala macam kreasi manusia yang diciptakan atau dikreasikan untuk mempermudah manusia dalam memenuhi dan mencapai kebutuhannya. Maka sang guru pun membenarkannya tanpa membandingkan lagi dengan teori-teori para ahli. Sampai akhirnya pembahasan berlanjut pada efek teknologi pada kelompok sosial. Dalam hal ini kami sepakat, saya yang islam dan dia yang kristen, menyepakati bahwa memang benar, teknologi adalah alat pemenuh kebutuhan manusia. Namun dalam pandangan lebih lanjut, dia secara general memberikan pendapat tentang positifnya teknologi dan advancenya peradaban manusia karena penggunaan teknologi. Namun saya lebih memilih berpikir agak pesimis, kalau pada kenyataannya teknologi suatu saat akan mengurangi kualitas kemanusiaan, mengurangi kemampuan dasarnya, karena sebenarnya dengan kemudahan walau jarak dan perkembangan lebih cepat, tapi unsur manusiawinya sudah terlepas dan tak kuat lagi dalam kehidupan manusia itu sendiri.

Sebagai contoh, dengan berkembangnya handheld belakangan ini yang mempermudah akses internet dimana saja dan kapan saja. Pola interaksi sosial dalam konteks nyata pun jatuh dengan cepat. Coba lihat kumpulan orang di terminal, atau di tempat mana saja, mereka lebih memilih memegang handheldnya daripada berbicara dengan orang sekitarnya. Bahkan lucunya, kalau berkumpul bersama teman pun, akhirnya masing-masing memegang handheldnya, online jamaah. (Terus ngapain ngumpul ketemu, ckck)

Karena jujur, yang saya rasakan pun, ada sifat adiksi dalam penggunaan teknologi. Manusia diciptakan dengan rasa penasaran yang tinggi. Sementara dengan teknologi informasi arus informasi berjalan luas dan dengan mudah kita akses cuma dengan jari-jari, mata dan telinga. Tanpa harus menggunakan otot kaki atau lengan.

Sampai semua ini berkembang pada sosial network, yang membuat kita lebih 'pede' mengekspresikan diri. Namun pada ujungnya, karena ada sifat manusia yang pastinya akan terpengaruh lingkungan. Tentu ketika melihat wall yang banyak kawan kita dengan kurang rasa malunya menceritakan berbagai aib dan maksiat, maka secara sadar atau tidak pun kita akan terpancing melakukan hal yang sama, bila tak secara langsung bisa jadi secara bertahap. Itu yang dibilang manusia terpengaruh lingkungan. Atau yang Rasulullah katakan, lihat karakter seseorang dari kawan-kawannya.

Lalu pada bagian tergelapnya, ternyata tak hanya bagian positif manusia yang dibawa ke dunia maya ini. Bagian terburuk manusia pun terbawa-bawa dalam kemudahan teknologi ini. Kemudahan? Tentu, karena orang yang senang berlaku buruk pun ingin lebih mudah melakukan keburukan. Maka terbawalah segala macam penyakit masyarakat dalam dunia maya ini.

Ketika pertama kali teknologi 3G dikembanngkan prototypenya, sudah ada plesetan tentang kepanjangannya yaitu Girls, Game, Gambling (pornografi, permainan, perjudian). Ya, dan memang itu semua yang dibawa dalam sisi gelap dunia maya.

Celakanya, dari negara-negara yang melegalkan pornografi, tentu industrinya akan menggunakan internet juga untuk ekspansi bisnisnya, dan celakanya ketika sebuah hal ditaruh di jaringan world wide web, maka hal itu akan bisa diakses di seluruh dunia oleh manusia dari segala umur kan?. Dan ditambah dengan fakta di atas yang manusia akan terpengaruh lingkungannya, tentu dengan lingkungan tak sehat seperti ini apa karakter seorang lebih baik? Dan antar manusia dengan manusia, seolah ada jaringan yang saling menghubungkan. Anggap saja sekumpulan abg memiliki 5 anggota, ketika yang satu menyaksikan pornografi, tentu dia ingin mengajak 4 temannya kan? Dan semua berlanjut sampai akhirnya 'ngetrend' upload foto porno sendiri ke dunia maya, sadis. (Dan semua berubah ketika negara api menyerang).

Dan dua hal lagi tentang Games dan Gambling. Akhirnya saya pun ingin ketawa-ketiwi, akhirnya benar-benar terwujud. Karena tadinya saya pikir dua hal ini akan terpisah. Ternyata mulai tahun 2010an game-game gambling di sosial media benar-benar jadi judi sungguhan. Sampai banyak yang rela membeli macam-macam chip dari akun lain untuk lanjut berjudi lagi. Di samping ternyata memang banyak website lokal bahkan yang memang benar-benar menjalankan perjudian.

Namun apakah ketiga sisi tersebut adalah sisi tergelap dunia maya? Hmm belum, bahkan itu masih level rendah dunia maya yang sebenarnya bukan kita yang mencari mereka tapi mereka yang mencari kita. Seperti adiksi game online pada anak-anak atau bahkan borang dewasa. Kita adalah kelinci-kelinci yang menyenangkan untuk diburu.

Dan untuk bagian lebih gelapnya, hmm.. Saya masih mau menjaga etika di bulan puasa ini. Atau baiknya bila benar-benar ingin tahu, silahkan saja suatu saat hubungi saya untuk kita sharing, tentang berbagai macam link-link gelap sambil online bareng dengan messenger.. Karena tentu lebih mudah menunjukkannya dengan bukti langsung, tentang hal-hal ini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar