Lagu ini enak gak..?

Sabtu, 17 Agustus 2013

Suka-Suka Cinta (Bag.6 : BERSATU DALAM DOA )


Original created : Bastian Tito

CUACA mendung gerimis ketika Phanter biru gelap itu  berhenti di depan Pos Pengawas Gunung Gede.
Dwita melihat banyak orang berkumpul di halaman.  Selain teman-teman sekolah di situ juga ada Pak Syafei  Wali Kelas I-4, Pak Bugi Ibrahim Wali Kelas II-9, Ibu Renata,  guru Bahasa Inggris. Lalu para orang tua dan keluarga
anak-anak rombongan pendaki gunung. Semua kelihatan  dalam wajah-wajah mencekam. Yang membuat Dwita ter-duduk di kursi mobil, tak segera turun adalah ketika dia  melihat mobil-mobil polisi, lalu empat buah mobil ambulan
dan dua kendaraan dinas Pemda setempat. Dada anak  perempuan ini terasa sesak. Dia memandang pada Wiwiek,  teman yang duduk di sampingnya.

"Wiek, kok ada ambulan? Jangan-jangan...."

Pintu belakang salah satu ambulan terbuka. Dua orang  petugas menurunkan dua tandu lipat. Keduanya bicara  dengan tiga orang anggota Polisi. Salah seorang anggota  Polisi bicara lewat handy talky. Tak lama kemudian orang-orang itu masuk ke dalam Pos Pengawas, ketika keluar lagi mereka membawa perlengkapan, semuanya siap bergerak  ke arah Gunung Gede.

Dwita segera turun dari mobil. Wiwiek dan teman-teman-nya mengikuti. Dwita mendekati anggota Polisi yang mem-bawa handy talk, gagah, masih muda, berpangkat Letnan Dua.

"Pak, saya boleh ikutan ke gunung?"

"Adik siapa?" tanya anggota Polisi itu.

"Saya... saya teman anak-anak yang..."

"Maaf Dik. Yang boleh naik ke atas cuma petugas. Para orang tua tadi juga banyak yang memaksa ikut naik.  Mereka ingin membantu.  Tapi tidak diperbolehkan. Semua  sudah ada yang menangani, termasuk penduduk setempat  yang jadi penunjuk jalan. Jadi adik sebaiknya gabung  dengan orang-orang di depan Pos."

"Pak, kejadiannya bagaimana?"

"Maaf Dik, saat ini saya tidak bisa memberi keterangan  apa-apa..."

"Teman-teman saya. Mereka... mereka masih hidup?"
Dwita bertanya, ingin kejelasan. Pertanyaannya tidak ter-kontrol lagi.
Jawaban yang diterima dari Letnan Polisi itu justru mem-buat hati Dwita ciut.

"Lokasi tujuh anak itu sudah ditemu-kan. Bagaimana keadaan mereka belum dapat dipastikan.  Adik agar tenang saja. Silahkan gabung dengan yang lain-lain di depan Pos. Saya harus segera bergabung dengan Tim Pencari yang ada di gunung."

Ketika Dwita dan Wiwiek serta teman-temannya yang  lain melangkah ke arah Pos Pengawas, dia sempat men-dengar ada yang berkata.

"Uh, soknya mau ikutan ke  gunung segala! Datangnya  aja baru gini hari! Kita-kita udah nongkrong dari Subuh!"

Dwita berpaling. Walau tidak melihat tapi dia sudah bisa  menduga siapa yang bicara. Ketika dia melihat wajah itu  dugaannya tidak keliru. Yang barusan bicara adalah Trini.  Anak itu duduk di dekat teras Pos Pengawas, di antara
serombongan anak-anak kelas II-9 SMA Nusantara III.  Sesaat pandangan mata Dwita dan Trini saling beradu. Wiwiek yang ada di samping Dwita memegang lengan temannya itu lalu berkata.

"Acuh aja. Tu anak memang  begitu. Mulut ember. Suka bicara seenak jeroannya...."

"Badanku lemas Wiek. Aku  mau duduk di mobil aja," kata Dwita.

"Ayo aku anterin," kata Wiwiek. "Tapi kau nggak mau  ketemu orang tuanya teman-teman dulu. Yang duduk di  bawah pohon sana kalau aku nggak salah bapak sama ibu-nya Boma..."

"Kalau aku ke sana nanti tu cewek ngomong yang  nggak-nggak lagi..." kata Dwita.

"Jangan dipikirin. Sama bapak atau ibunya Boma siapa  tau kita bisa tanya apa yang sebenarnya terjadi...."

Dwita setuju dan menganggukkan kepala. "Tapi kita  temuin Wali Kelas dulu, Wiek."

Setelah menemui dan menyalami Wali Kelas I-4, Wali  Kelas II-9 dan Guru Bahasa Inggris Ibu Renata, Dwita dan Wiwiek beserta teman-temannya yang barusan datang dari  Jakarta mendatangi para orang tua yang duduk menggelar
tikar di bawah pohon. Mereka adalah orang tua Boma,  Ronny, Gita, Vino, Rio, Andi dan Firman. Beberapa di antara  orang tua itu, yang datang malam tadi tertidur keletihan.

"Saya Dwita, temannya Boma Pak," kata Dwita ketika  bersalaman dengan Sumitro Danurejo, ayah Boma. "Maaf-kan saya dan teman-teman datang terlambat. Baru tau tadi  siang..."

Ayah Boma, lelaki berkaca mata plus 6 sesaat pandangi  wajah anak perempuan yang menyalaminya. Dia tak ber-kata apa-apa, hanya menganggukkan kepala lalu berpaling  pada istrinya yang duduk bersandar di sebelahnya.

"Bu...." Dwita menyalami ibu Boma. Belum apa-apa perempuan itu sudah megucurkan air mata. "Doakan ya Nak. Doakan agar Boma dan teman-temannya selamat...."


Dwita mengangguk haru. Tadi banyak yang hendak di-tanyakannya tapi kini mulutnya tak sanggup berucap. Dia berpaling pada Wiwiek.  Anak ini maklum arti pandangan itu lalu bertanya pada ibu Boma.

"Bu, saya dan teman-teman baru dapat kabar tadi siang.  Itu juga lewat tilpon. Nggak tau jelas kejadiannya...."
Ibu Boma menyeka air matanya.

"Dulu Ibu sudah melarang Boma. Jangan naik gunung.  Apa lagi sekarang musim hujan. Tadi malam Pak Nugroho,  Bapak Kepala Sekolah datang. Memberitahu. Rombongan  anak-anak SMA Nusantara III mengalami musibah di
Gunung Gede. Nyawa Ibu rasanya seperti amblas...." .

Pe-rempuan itu menahan isak, mengusut lagi air matanya.  Suaminya memeluk bahunya dan membisikkan sesuatu. Ibu Boma melanjutkan.

"Malam tadi kami dan Bapak Kepala Sekolah, sama-sama orang tua murid yang lain berangkat ke sini. Cuma  sampai di sini. Tidak boleh  naik ke Gunung. Cuma Pak  Nugroho Kepala Sekolah satu-satunya yang diperbolehkan  naik oleh petugas. Itupun sesudah Pak Tatang, Kepala Pos  Pengawas bantu minta izin sama petugas. Harusnya Boma  sama teman-teman sudah turun Minggu sore. Sekarang
hari Selasa. Dua hari anak-anak itu tidak diketahui nasib-nya. Kasihan.... Kasihan Boma...."

"Tadi ada kabar dari Pak Letnan, lokasi anak-anak  sudah diketahui. Mereka siap melakukan evakuasi..." Untuk pertama kali Ayah Boma ikut bicara.

"Mereka cuma menemukan.. Tapi tidak memberitahu  bagaimana keadaan anak-anak. Apa masih hidup atau...."  Ibu Boma tak sanggup lagi menahan gerungan. Ibu-ibu yang lain juga ikut mengucurkan air mata. Ayah Boma
kembali berbisik, berusaha menenangkan dan membujuk istrinya.


"Sudah Bu, kita serahkan saja semua pada Yang Maha Kuasa. Sebentar lagi pasti ada kabar lewat radio komuni-kasi di Pos."

"Dwita, kita di Pos saja. Sambil nunggu kabar," bisik  Wiwiek.

"Aku lebih suka di mobil saja," jawab Dwita. "Tadi aku  lihat Trini sudah duluan masuk ke sana."

Di dalam mobil Dwita menghidupkan mesin lalu me-nyalakan AC. Tubuhnya terasa gerah dan juga letih.

"Hatiku nggak enak Wiek..." kata Dwita.

"Semua kita merasa nggak enak, Dwita..."

"Tadi malam aku nggak bisa tidur. Bangun kesiangan.  Sebelum bangun aku mimpi. Mimpi seram Wiek..."

"Segala mimpi. Buat apa dipikirin. Apa lagi kalau mimpi-nya udah tengari bolong," kata Wiwiek pula. Tapi setelah  berdiam sesaat dia ingin tau juga apa yang dimimpikan  Dwita. "Memangnya kau mimpi apa?"
Dwita lalu menceritakan mimpinya pada Wiwiek.

Wiwiek tersenyum. "Kalau kau mimpi dibunuh orang ber-arti umurmu bakalan panjang. Percaya aku! Lagian  mungkin kau kebanyakan dongkol sama si Trini. Jadi  keingetan terus. Kebawa mimpi. Mimpinya mimpi gombal."

"Habis, siapa sih yang nggak dongkol Wiek. Tadi aja kau dengar sendiri. Orang begini banyak enak aja dia  ngelecehin gua. Sebodo amat dia mau datang Subuh kek,  nggak usah ngomong gitu. Gimana kalau aku benar-benar  pacaran sama Boma. Uhhhh, habis kali gua dikerjain!"

"Kalau kau pacaran sama  Boma, Trini tak bakalan  muncul di sini. Malu dong dia..."

"Orang seperti dia mana punya rasa malu," ujar Dwita  pula.

"Sebenarnya kau sama Boma gimana sih?" tanya Wiwiek.

"Maksudnya gimana gimana?"

"Kalian pacaran?"

"Kalian siapa?"

"Kau sama Boma, pacaran?" tanya Wiwiek.

"Menurutmu gimana?"

"Aku nanya kok kamu balik nanya!"

"Udah Wiek, aku capek. Aku mau melonjor dulu..." Dwita
menurunkan sandaran kursi mobil. Dua kakinya dilunjur-kan panjang-panjang. Matanya perlahan-lahan dipejamkan.  Hatinya berdoa.

Ayah Boma dan beberapa orang tua murid baru saja  selesai sembahyang Asar ketika ada berita dari tim pencari  lewat radio komunikasi bahwa tim sudah bergerak me-nuruni lereng Gunung Gede. Diharapkan akan sampai di  Pos Pengawas sekitar lima jam, berarti sekitar pukul 9  malam.

Trini dan kawan-kawannya yang ada di dalam Pos, ber-sama Sambas petugas pengawas yang memonitor radio  komunikasi meminta agar petugas itu menanyakan keada-an teman-teman mereka. Namun dari ujung sana tak ada
jawaban. Hal ini menimbulkan tanda tanya dalam hati  semua orang. Apakah Boma dan enam temannya ditemu-kan masih dalam keadaan hidup?

"Jangan-jangan teman-teman kita sudah nggak ada,"  bisik Trini dengan suara bergetar.

"Jangan dulu berpikir sejauh itu Rin," seorang teman  membisiki.

"Kalau mereka masih hidup, pasti pimpinan  memberi-tahu..."

"Pimpinan tim 'kan ayahmu sendiri. Coba saja kau  kontak langsung," kata teman tadi. Trini mendekati Sambas, petugas Pos Pengawas. "Kak
Sambas, saya boleh pakai radionya, mau kontak Bapak..."'

"Silahkan," jawab Sambas  sambil menyeahkan mikro-pon radio komunikasi dan mengajarkan cara pemakaiannya pada Trini.

"Trini dari Pos Pengawas. Minta bicara dengan pimpinan  tim pencari..."

Tak ada jawaban. Trini mengulang. " Trini dari Pos  Pengawas. Minta bicara dengan pimpinan tim pencari."

Tetap tak ada jawaban. Trini mengembalikan mikropon  lalu mendekati teman-teniannya. "Mustahil mereka tidak  menerima panggilan. Kayaknya ada yang dirahasiakan...."

"Sabar aja Rin. Mungkin mereka berada di gunung  malam-malam begini bukan pekerjaan gampang..."

"Menggotong orang apa menggotong jenazah," bisik  Trini.  Temannya terdiam. Semua anak-anak yang ada di dalam Pos jadi tercekat.

Menjelang jam 7 malam di lereng terbawah Gunung  Gede kelihatan nyala lampu-lampu senter dan cahaya terang lampu-lampu petromak.
Lalu di radio ada permintaan agar ambulan disiap siaga-kan. Para orang tua yang sudah keletihan seperti men-dapat tenaga baru, berdiri di depan Pos dengan mata tidak putus-putusnya memandang ke arah kaki Gunung Gede di  kejauhan. William Kaunang,  ayah Ronny tampak berdiri  berdampingan dengan istrinya. Kedua orang ini me-rapatkan tangan memejamkan mata, berdoa menurut  agama Protestan. Begitu juga ayah ibu Boma dan semua  orang tua serta anak-anak SMA Nusantara III yang ada di  tempat itu, sama-sama memanjatkan doa menurut keper-cayaan masing-masing. Semuanya seolah menjadi satu  dalam menyampaikan harap permintaan dan pertolongan kepada Yang Maha Kuasa.

Sambas petugas di Pos Pengawas keluar dari Pos, me-mandang ke arah kegelapan.
"Aneh, mereka sampai dua jam lebih cepat. Bagaimana mungkin?"
Hanya beberapa menit menjelang jam 7 malam rombongan evakuasi sampai di Pos Pengawas. Tujuh tandu  digotong cepat ke arah empat buah ambulan. Di atas
masing-masing tandu tergolek sosok terbungkus kantung  plastik. Semua orang yang ada di sana serta merta ber-usaha mendekati. Para orang tua berteriak histeris me-manggil nama anak masing-masing. Anak-anak SMA  Nusantara III menangis, ada yang memekik menyebut  nama kawan mereka. Para petugas menjadi sibuk.

"Anak saya... Bagaimana anak saya! Mana anak saya!  Gita! Gita!" Ibu Gita Parwati, satu-satunya anak perempuan  dalam rombongan berteriak memanggil-manggil anaknya.

Dua orang anak perempuan berusaha menembus pagar  petugas. Itulah Trini dan Dwita. Mereka berusaha mencari  Boma. Tapi halaman depan Pos Pengawas agak gelap,  sosok-sosok di atas tandu setengah terbungkus kantung  plastik dan para petugas bertindak cepat. Semua orang  kecewa.

Sesaat setelah empat ambulan meninggalkan tempat itu  dengan kawalan dua mobil polisi, seorang lelaki berjaket  loreng mendatangi orangorang di depan Pos Pengawas. Dia adalah Letnan Kolonel Polisi Kusumo Atmojo, ayah Trini
Damayanti. Disampingnya mengikuti Pak Nugroho, Kepala Sekolah SMA Nusantara III.

"Pak bagaimana anak saya?"

"Pak anak kami bagaimana?"

Perwira Menengah dari Polda Jaya itu mengangkat  tangan kanannya. "Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak SMA  Nusantara Tiga. Kami memahami kekecewaan semua yang  ada di sini. Kami harus bertindak cepat. Anak-anak itu ber-ada dalam keadaan sangat kritis. Saat ini mereka dilarikan  ke Rumah Sakit di Sukabumi untuk mendapatkan per-tolongan pertama. Setelah itu jika diperlukan dan keadaan  mengijinkan direncanakan dipindah ke Rumah Sakit PMI  Bogor. Semua harap sabar dan tenang. Tujuh anak itu  walau sangat kritis tapi mudah-mudahan nyawa mereka  masih dalam lindungan Yang Maha Kuasa..."

Isak tangis dan jerit histeris memenuhi halaman Pos  Pengawas. Terdengar suara doa diucapkan.

"Terima kasih Yesus. Terima kasih Allah Bapa di Surga."

"Allahu Akbar. Tuhan, tolong anak-anak itu. Tolong kami  semua...."

Malam itu juga, semua orang yang ada di Pos Pengawas  termasuk Tatang Suryadilaga, Kepala Pos Pengawas  berangkat ke Rumah Sakit di Sukabumi.
Di atas mobil setelah berdiam diri cukup lama.

"Wiek..."

"Hemmmm..."
"Kayaknya aku ragu sama omongan Bapaknya Trini  tadi..."

"Ragu bagaimana?" tanya Wiwiek.

"Kalau Boma dan teman-teman masih hidup, mengapa  mereka dimasukkan dalam kantong-kantong plastik? Lalu  Pak Nugroho Kepala Sekolah diam saja. Nggak ngomong  apa-apa." Wiwiek diam. Teman-teman yang lain juga tak
ada yang bicara.

"Sudah, kau lagi mengemudi. Capek. Jangan mikir yang  nggak-nggak," kata Wiwiek akhirnya.

"Tapi Wiek...."

"Tunggu dulu," Wiwiek tiba-tiba ingat sesuatu. "Kantong-kantong plastik itu adalah kantong tidur yang biasa dipakai  pendaki gunung. Bukan kantong mayat! Lalu apa kau  nggak meratiin. Setiap tandu digotong dua petugas. Lalu  ada petugas ke tiga memegang infus. Kalau teman-teman  sudah pada mati masakan diinfus. Mana ada sih jenazah  diinfus."

"Kau benar Wiek," kata Dwita agak lega. Anak ini main-kan lampu dim ketika dia berusaha menyusul truk diesel yang bergerak merayap di satu tanjakan. **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar