Lagu ini enak gak..?
Sabtu, 17 Agustus 2013
Suka-Suka Cinta (bag.5 : MIMPI BURUK)
Original created : Bastian Tito
DWITA TIFANI melangkah sepanjang halaman sepi di sisi kanan Pondok Indah Mall. Malam terasa dingin, terlebih ketika angin bertiup. Lalu hujan mulai turun
rintik-rintik.
"Heran, kok sepi amat. Pada ke mana orangorang. Masa sih takut sama hujan gerimis?" Dwita bertanya sendiri. Dirapikannya kerah kemeja blujinnya. Dibetulkan-nya letak tali tas yang tersangkut di bahu kiri. Lalu anak ini melangkah
menuju halaman parkir.
"Mati lampu? Kok gelap...?" Dwita seolah baru sadar kalau keadaan sekelilingnya gelap. Hanya ada satu lampu menyala di kejauhan di halaman parkir sebesar itu.
"Ah, kok aku jadi takut. Brengsek!" Dwita melanjutkan langkah.
Di depannya ada sebuah tempat sampah besar terbuat dari besi, berbentuk empat persegi dengan ketinggian hampir sepundak.
Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara anjing melolong. Dwita hentikan langkah di depan tempat sampah besi. Dia memandang berkeliling.
"Ada anjing melolong. Tapi anjingnya nggak kelihatan...."
Dwita memandang berkeliling sekali lagi. Sunyi, dingin dan gelap. Walau gelap dia masih bisa melihat mobil Starlet merahnya di kejauhan sana. Dwita Tifani menggerakkan kaki melanjutkan langkah. Tiba-tiba dari balik tempat sampah besi melompat seseorang. Dwita terkejut, hampir terpekik. Dikiranya rampok
atau orang jahat. Kejutnya agak mengendur ketika diamengenali siapa adanya orang di hadapannya. Tapi mendadak dadanya berdebar ketika melihat orang itu berdiri sambil mengacungkan sebilah belati besar, berkilat terkena cahaya lampu di kejauhan. Dan mata itu. Mata itu merah sekali, begitu ganas mengerikan! Di sudut bibirnya ada lelehan cairan merah. Darah?
"Trini...." ujar Dwita.
"Bagus, kau mengenali aku. Aku memang Trini. Trini Damayanti..."
"Ngapain kau disini...?" Dwita bertanya.
"Ngapain aku disini?" Trini tertawa panjang. "Kau lihat pisau ini? Kau lihat?"
"Trini, kau punya maksud apa? Pisau itu! Kau membawa pisau segala! Untuk apa?!"
"Untuk apa?!" Trini kembali tertawa. Lelehan cairan merah semakin panjang turun ke dagunya. "Kau anak baru di SMA Nusantara Tiga.... Berani-beranian mau merampas Boma dari tanganku hah?!" Pisau di tangan Trini menusuk
ke depan, menembus udara.
Dwita terpekik, cepat melangkah surut.
"Bilang! Ngaku! Kau mau merampas Boma dari tanganku!'
"Tidak.... Siapa bilang aku merampas Boma." jawab Dwita.
Trini bergerak. Dwita mundur lagi. Punggungnya membentur tempat sampah dari besi. Dia tidak bisa mundur. Trini mendekat. Jarak mereka kini hanya terpisah tiga
langkah.
"Bohong! Dusta! Penipu busuk! Aku tau kau memang mau merampas Boma! Kau malah nyogok dengan uang. Sekarang uang, nanti apa? Mungkin tubuhmu! Cih!"
Trini membuang ludah. Ludahnya tampak merah. "Memalukan! Cewek rakus! Aku akan membunuhmu! Lihat pisau ini! Akan kucabik-cabik tubuhmu!"
"Trini! Kau waras nggak! Kau... kau habis minum obat ya?!"
"Apa?! Aku minum obat katamu?!" Trini membentak lalu tertawa panjang. "Estacy?!" Trini tertawa lagi. "Aku memang minum obat! Tapi bukan obat bius! Obat yang aku tenggak namanya obat kebencian! Obat dendam! Benci, dendam
sama kau! Aku mau minum darahmu!"
Trini melompat ke depan. Pisau di tangan kanannya berkelebat. Menderu dingin mengerikan. Dwita angkat tasnya, melindungi wajahnya yang hendak dibabat. Tapi tumit sepatu sebelah kirinya terpeleset. Tubuhnya goyah. Tasnya
terjatuh. Dirinya tidak terlindung lagi.
"Craasss!"
Belati besar menancap di leher Dwita. Darah muncrat dari mulut anak perempuan itu. Seperti orang kerasukan setan Trini tertawa panjang. Belati berdarah di tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Dwita kembali menjerit.
***
TUBUH Dwita digoncang keras.
"Dwita! Bangun! Dwita!"
Tubuh terbungkus daster tipis pendek itu menggeliat. Lalu seperti disentakkan Dwita bangkit, terouduk di kepala tempat tidur. Matanya membeliak. Wajah keringatan. Dia hendak menjerit lagi tapi tak ada suara yang keluar. Satu
tangan menutup mulutnya dengan cepat. Suara gerungan tersendat di tenggorokan. Dwita lalu memeluk sosok Maya, kakak perempuannya yang duduk di samping tempat tidur. Memegangi kedua bahunya.
Pintu kamar terbuka. Nyonya Tia Sujatmiko—ibu Dwita— langsung bertanya."Ada apa Maya? Kenapa Dwita?"
"Mimpi Ma, Dwita pasti mimpi," jawab Maya, sambil mengusap keringat di kening adiknya.
"Ma, jaga dulu. Saya mau ambil air putih." Nyonya Tia duduk di tepi tempat tidur. Ditekapkannya dua tangannya di wajah anaknya.
"Kau pasti mimpi yang tidak enak. Berbaring dulu, biar lebih tenang..."
"Saya memang mimpi jelek Ma," kata Dwita.
"Mimpi apa? Kau mau menceritakan pada Mama?"
"Ah, sudahlah. Cuma mimpi. Nggak apa-apa."
"Itulah, Mama 'kan sering bilang. Kalau tidur jangan keliwat malam. Kau tau sekarang sudah jam berapa? Hampir jam sebelas siang..."
"Masa' sih Ma?"
"Kok nggak percaya..." Sang ibu mengambil beker di meja kecil di samping tempat tidur lalu memperlihatkannya pada Dwita. Dwita tersenyum Nyonya Jatmiko agak lega melihat senyum puterinya itu. Maya masuk membawa segelas air putih. Nyonya Jatmiko berdiri.
"Maya, Mama mau menilpon Papamu...."
"Masa cuma anak mimpi aja mau dikasih tau Papa segala?" ujar Maya.
"Eh, siapa yang mau ngasih tau soal mimpi? Mama nelpon Papa, mau tanya apa Pak Sundoro, Dubes teman Papamu itu jadi datang ke sini. Mama 'kan harus menyiapkan makan siang. Hari ini Mama sengaja memasak tongkol kuah tauco kesenangan Pak Sundoro. Dwita, habis minum lekas mandi. Biar segar."
"Iya Ma..." jawab Dwifa. Setelah ibunya keluar Maya bertanya pada adiknya.
"Kau mimpi apa Wita?"
"Serem May. Aku mau dibunuh..." Maya tertawa. "Ada-ada aja kau ini. Siapa yang mau membunuhmu?"
"Trini.... Cewek sekolahan yang pernah aku ceritakan padamu."
Maya tersenyum. Dibelainya rambut adiknya. "Sudah, segala mimpi nggak perlu dipikirin."
"Lagian siapa yang mikirin. Tapi aku punya firasat. Cewek seperti si Trini itu mau-mauan aja ngerjain aku."
"Gara-gara Boma?" '
Dwita menjawab dengan tarikan nafas panjang.
"Cinta monyet! Sekarang bukan jamannya lagi," kata Maya.
"Kau boleh menganggap aku monyet May. Tapi yang aku hadapi justru seekor gorila," kata Dwita pula. "Sudah, aku mau mandi dulu."
"Sebelum mandi periksa dulu kamar mandimu. Siapa tau gorilanya sudah nongkrong di situ!" Maya tertawa cekikikan.
"Ah, jangan nakutin dong May! Brengsek kau!" Acuh saja Dwita membuka dasternya. Tanpa ada yang menutupi auratnya dia melangkah menuju kamar mandi. Maya geleng-geleng kepala.
"Firasatku, gorila yang di kamar mandi bukan gorila betina. Tapi gorila jantan!"
"Sinting kau!" kata Dwita dengan wajah cemberut.
***
SEHABIS mandi Dwita Tifani duduk di teras belakang rumah, berjemur matahari sambil mengeringkan rambut. Matanya menatap ke arah kolam renang kecil di halaman belakang rumah besar. Mbok Mirah datang membawa secangkir
teh manis panas dan dua potong roti panggang berlapis mentega dan selai strawberry kesukaannya. Biasa-nya jika dibawakan roti seperti itu Dwita langsung menyantapnya.
"Non Dwita, nggak lapar?" menegur Mbok Mirah ketika melihat Dwita masih duduk diam memandang ke kolam, seperti merenung.
Dwita tak menjawab. Juga tak bergerak. Matanya masih memandang ke arah kolam. Dua kaki dilipat di atas kursi.
"Non Dwita kok kayak ngelamun sih?" tanya sang pembantu.
"Ngelamunin pacar ya?" Mbok Mirah bergurau.
"Mbok, sekarang hari apa Mbok?" tiba-tiba Dwita bertanya.
"Aneh si Non ini. Anak sekolah nggak tau hari: Mungkin kelamaan libur ya? Sekarang hari Selasa Non."
Dwita seperti terkejut mendengar ucapan pembantu itu.
"Mbok, ambilin tilpon. Tolong Mbok. Cepetan!" Tergopoh-gopoh si pembantu masuk ke dalam rumah. Tergopoh-gopoh pula keluar sambil membawa tilpon wireless. Dengan cepat Dwita menekan tombol-tombol angka pada handset lalu mendekapkan pesawat itu ke telinga kirinya.
"Sambil nelpon rotinya dimakan dong Non. Sudah siang belum sarapan nanti sakit," ujar Mbok Mirah lalu masuk ke dalam.
Dwita menunggu. Tak ada jawaban dari seberang sana.
"Tut tut tut melulu. Aneh masak sih nggak ada orang di rumahnya?" Dwita menunggu lagi. Masih tut tut tut. "Ah mungkin aku salah mencet..." Dwita mengulang mendial nomor tadi. Tetap saja tak ada jawaban.
"Git... Gita dimana kau. Aduh angkat dong:..." Dwita menunggu lagi. Tetap tak ada yang menjawab. "Mungkin rusak," Dwita memandangi handset tilpon wireless yang dipegangnya.
"Hatiku... hatiku, mengapa mendadak tidak enak? Mimpi buruk itu.... Mungkin...." Dwita berpikir sesaat.
Mengingat-ingat."Ronny.... Ronny. Kalau mereka sudah pulang.... Mudah-mudahan anak itu ada di rumah." Dwita lalu menilpon rumah Ronny. Lama sekali baru diangkat. Yang menerima pembantu.
"Hallo, saya Dwita, temannya Ronny," menerangkan Dwita. "Ronnynya ada?"
"Rumahnya, kosong Neng. Semua orang pada pergi...."
"Jadi Ronny belum pulang dari Gunung Gede?"
"Justru Neng, ayah sama ibunya Nak Ronny, juga saudara-saudaranya semua pada pergi ke Gunung Gede. Ada kecelakaan Neng."
"Kecelakaan? Kecelakaan apa? Siapa yang celaka?" tanya Dwita.
"Rombongannya Nak Ronny. Anak-anak itu hilang di Gunung Gede. Polisi katanya juga sudah ke sana."
Paras Dwita Tifani berubah. "Bibi tau dari mana?"
"Ibu bilang sebelum pergi..."
"Lalu ibu tau dari siapa?" Dwita coba meyakinkan.
"Ada teman Nak Ronny yang nilpon ke sini... Bibi lupa namanya."
"Laki apa perempuan?" tanya Dwita lagi.
"Perempuan."
"Polisi.... polisi... anak perempuan...." Dwita membatin dalam hati. Dia ingat Trini. Ayah Trini seorang anggota polisi. "Bi', anak perempuan yang nilpon itu namanya...namanya Trini?"
"Trini.... Betul Neng! Trini. Dia yang 'nilpon."
"Bibi' tau nomor tilponnya Trini?"
"Nggak tau Neng..."
"Di situ ada buku tilpon? Catatan nomor tilpon?"
"Ada sih ada Neng..."
"Tolong Bi! Mungkin di situ ada nomor tilpon Trini..."
"Maaf Neng. Bibi nggak bisa baca. Bibi buta huruf..."
Dwita menggigit bibir, memijat-mijat keningnya sendiri. Dadanya terasa sesak.
"Ya sudah Bi'. Terima kasih."
Dwita mematikan tilpon wireless itu, meletakkannya atas pangkuan. Berpikir-pikir siapa lagi yang harus ditilponnya. Dari anak-anak kelas I-4 yang sekarang naik ke kelas II-9 dia Cuma tau nomor tilpon Gita dan Ronny. Mendadak tilpon berdering, membuat Dwita tergaga kaget lalu cepat-cepat menekan tombol on dan mendekatkan tilpon ke telinga kirinya.
"Hallo, bisa bicara sama Dwita?"
"Saya sendiri. Siapa nih?"
"Dwita, gue Wiwiek..."
Ternyata yang menilpon Wiwiek, teman satu kelas Dwita.
"Tumben kau nilpon aku. Nggak sari-sarinya," kata Dwita.
"Dwita, kau udah denger belon?"
"Denger apa?" Dada Dwita kembali sesak. Dia ingat lagi pada mimpi buruknya. Ingat pada keterangan pembantu Ronny tadi.
"Boma sama teman-temannya yang naik ke Gunung Gede. Mereka semua hilang. Nggak diketahui gimana nasibnya. Katanya kalau sampai hari ini anak-anak itu nggak ditemukan, tim Sar mau diturunkan. Saat ini katanya sudah ada tim dari Kepolisian Sukabumi yang naik ke Gunung Gede...."
"Kau... kau tau dari mana Wiek?"
"Dari Trini. Semua teman-teman sudah ditilponin. Siang ini anak-anak kelas I-4 yang lagi liburan mau ngumpul di sekolah. Rencananya sebelum jam dua belas langsung ke Sukabumi...."
"Wiek...." Suara Dwita gemetar. "Aku.... Kau punya nomor tilponnya Boma?"
"Di rumahnya nggak ada tilpon. Lagian aku rasa orang tua sama saudara-saudaranya pada berangkat ke Sukabumi." Dwita menggigit bibir.
"Dwita, udah dulu. Aku mau ke sekolahan. Kau ikutan?"
"Ya... ya. Harus." Suara Dwita terdengar pahit.
"Dwita.... Dwita!"
"Ya..."
"Kalau kau punya mobil Kijang atau Panther.... Teman-Teman banyak yang mau ikut. Kendaraan kita kurang.... "
"Ya... ya...." Jawab Dwita tapi tilpon wireless sudah terjatuh ke pangkuannya, terus berir jatuh ke tanah berumput. Apa yang terjadi dengan Boma dan enam orang temannya? Hati Dwira mengucap. "Ya Tuhan tolong
mereka. Tolong Boma, tolong teman-teman saya..."
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar