Lagu ini enak gak..?

Sabtu, 17 Agustus 2013

Suka Suka Cinta (Bag.8 : Tuyul Bengkak)





Original Created : Bastian Tito


RINI DAMAYANTI
menggeliat di atas tempat tidur. Dia  sudah lama terbangun dan sudah beberapa kali
mendengar Bibi Sarkah mengetuk pintu. Entah pada  ketukan yang keberapa akhirnya Trini berteriak.

"Ada apa sih Bi'?"

"Ada tamu Non." Jawab Bibi Sarkah dari luar kamar di depan pintu.

"Siapa? Cewek, cowok?!"

"Cowok! Katanya wartawan."

Trini turun dari tempat tidur, membuka pintu kamar dan  mengeluarkan kepalanya sedikit di celah pintu.

"Wartawan?"

"Iyya Non..."

"Ngapain?"

"Katanya udah ada janji sama Non..."

"Ah nggak, nggak ada janji tu. Apa lagi sama wartawan."

"Orangnya sih baek Non. Cuma gendut nggak ketulungan."

"Orangnya dimana?" tanya Trini.

"Duduk di teras."

Trini membuka pintu kamar. Lupa kalau saat itu dia Cuma mengenakan celana dalam mini dan kaos pendek
berbentuk singlet, melangkah berjingkat-jingkat ke ruang tamu. Dari balik hordeng tebal dia mengintip keluar. Di kursi teras dia melihat seorang lelaki gemuk memakai topi   pet terbalik duduk sambil menikmati sebatang rokok. Di  pinggir jalan di depan rumah ada sebuah Suzuki Katana  hitam. Trini ingat, orang itu pernah dilihatnya di Rumah Sakit di Sukabumi pada malam anak-anak SMA Nusantara  III diselamatkan.

Seperti tadi, berjingkat-jingkat Trini kembali ke kamar. Waktu melewati Bibi Sarkah dia berkata. "Saya nggak mau nemuin 'tu orang Bi'. Bilang aja saya udah keluar..."

"Wah, wong Bibi tadi bilang Non ada. Kasihan kalau  nggak ditemuin Non. Mungkin ada hal sangat penting..."

"Si Bibi bisa-bisaan aja sih! Udah, suruh nunggu sana..."

"Baik Non. Bibi bikinin kopi tamunya...?"

"Nggak usah. Nanti jadi anteng keenakan. Malahan namunya jadi lama. Bilang aja saya lagi mandi."
Setengah jam kemudian ketika akhirnya Trini muncul di teras, sebelum sang tamu bicara Trini menegur duluan.

"Memang saya ada janji sama situ Mas?"

"Maaf Mbak. Kalau nggak pakai trick pasti sulit nemuin orang penting seperti Mbak." Lalu wartawan bertubuh gemuk itu cepat-cepat mematikan rokoknya, tersenyum lebar, membungkuk sedikit dan mengulurkan tangan memperkenalkan diri.

"Saya Tuyul Bengkak dari tabloid...."

"Ih, namanya kok aneh sih," Trini langsung memotong ucapan orang.

Wartawan itu tertawa lebar. Dia berdiri dari kursi, mem-buka topi pet hingga kelihatan kepalanya yang botak
plontos. "Mbak Trini lihat sendiri. Cocok enggak nama saya dengan potongan saya. Gendutbuntak, kepala botak..."

Lalu seperti seorang pragawan si gendut botak ini me-langkah melenggang lenggok di lantai teras, berputar satu kali, kembali duduk ke kursi. Tawa Trini Damayanti meledak lepas. Kalau sebelumnya
ada rasa kurang senang pada orang ini kini mulai muncul rasa suka.

"Nama itu memang sih cocok sama orangnya," kata Trini. "Tapi masa iya sih situ namanya Tuyul Bengkak.
Nggak lucu ah!"

Si gemuk tertawa lebar. Lalu dengan mimik serius dia berkata. "Nama saya sebenarnya Simatupang."

"Simatupang? Situ dari Batak ya..."

"Bukan. Simatupang saya itu bukan nama Marga..."

"Lalu?" Trini heran.

"Simatupang itu singkatan dari Siang Malam Tunggu Panggilan."

Kembali Trini tertawa cekikikan.

"Ada-ada saja... Kok situ tau alarmat saya?"

"Wartawan... Tuyul Bengkak... Alamat siapapun mesti tau..."

"Serius nih, nama situ siapa sih sebenarnya? Nanti kalau ketemu di jalan masa saya teriak: Hai! 'Tuyul
Bengkak!"

"Itu nama yang afdol buat saya! Sudah nempe kiri kanan atas bawah depan belakang!"

"Oke deh, saya nggak maksa kalau nggak mau kasih tau nama...." kata Trini. Matanya memperhatikan sebuah telepon genggam terletak di atas meja. "Handphone siapa 'nih?"

"Saya, Tuyul Bengkak."

"Keren amat wartawanpunya handphone."

"Yaah, sesuai perkembangan jaman dan kemajuan teknologi. Apalagi katanya dalam menghadapi globalisasi di mana abad sekarang adalah abad komunikasi. Jadi wartawan perlu punya handphone.Biar sedikit tampil beda. Ha... ha... ha."

"Jangan-jangan sadapan punya," kata Trini pula.

"Ooo, yang begituan sih udah nggak jaman. " Malu-maluin aja, Tuyul Bengkak pakai tilpon sadapan..."
Trini tersenyum. "Oke, sekarang keperluannya nemui saya apa?"

"Betulnya saya mau ketemu Bapaknya Mbak Trini. Tapi susah banget. Mungkin Bapak juga lagi sibuk. Waktu di Sukabumi kami rekan-rekan dari wartawan minta penjelas-an Bapak mengenai keanehan-keanehan yang terjadi se-waktu penyelamatan tujuh anggota pendaki gunung. Bapak menyangkal ada keanehan. Hal ini membuat kami para wartawan merasa kejadiannya makin misterius. Kami yakin
Bapak tau peristiwa itu. Tapi karena alasan tertentu nggak mau ngomong. Menurut MbakTrini sendiri gimana?"

"Panggil aja Trini. Nggak usah pakai sebutan Mbak segala," kata Trini.

"Oke. Menurut Trini sendiri gimana? Terasa nggak ada-nya hal-hal aneh...."

"Saya nggak ngalamin sendiri. Jadi kurang tau. Tapi kalau dengar cerita Pak Tatang, Kepala Pos Pengawas,
juga ucapan Letda Sofyan, ditambah cerita Pak Sambas yang memonitor radio komunikasidi Pos. Lalu keterangan beberapa orang penduduk yang ikut mengusung teman-teman, kayaknya sih memang ada yang aneh. Malah tadi malam, waktu Bapak makan malam sama Ibu, saya nguping dengerin mereka membicarakan hal itu...."

"Nah, kalau gitu jelas memang ada misteri di Gunung Gede. Ada keanehan. Saya mau coba menghubungi Kepala Sekolah, juga anak-anak yang sudah pulang. Siapa tau ada cerita tambahan. Mungkin juga nanti Boma..."

"Boma masih di rumah sakit."

"Saya tau...."

"Mas Tuyul, kalau wawancaranya sudah selesai, saya mau berangkat ke Rumah Sakit PMI Bogor. Mau ngeliat Boma. Sorry, bukan ngusir nih..."

"Nggak apa-apa. Saya juga mau ke sana. Cari bahan berita baru. Mau barengan?"

"Nggak usah deh..."

"Takut ya sama orang gendut?"

"Iya, takut ketularan gendutnya," jawab Trini sambil  tertawa. Tuyul Bengkak ikut tertawa.

"Saya minta fotonya ya..."

"Lho, kok pakai foto segala?"

"Foto adalah sejuta kata yang tidak bisa dituliskan  dengari pena. Cia illa...!" Tuyul Bengkak berpuisi. Dari
dalam tas hitam yang diletakkannya di lantai teras dikeluarkannya sebuah kamera Nikon AF. Dia mengambil
foto Trini dari tiga arah, semuanya semi close-up.

"Terima kasih, terima kasih banyak-banyak."

Tuyul Bengkak memasukkan kameranya kembali ke dalam tas lalu mengenakan topi petnya.
Seperti biasa topi itu dipasang terbalik. Dia bangkit dari kursi tapi tidak langsung melangkah.

"Masih ada satu pertanyaan lagi. Tadi kelupaan."

"Apa?"

"Hubungan Trini sama Boma, selain teman satu sekolah  apa ada hubungan lain yang istimewa?"

"Istimewa maksudnya pake madu susu telor plus jahe?"  Tuyul Bengkak tertawa lebar. "Saya cuma ingin negesin aja. Takut nanti salah nulis. Bener nggak?"

Trini Damayanti terdiam sesaat. Terbayang olehnya wajah Boma. Tiba-tiba ikut terbayang wajah Dwita Tifani. Sepasang mata anak ini membesar. Senyum bermain di bibirnya. "Ini kesempatan. Kesempatan besar! Biar dia tau rasa..." kata Trini dalam hati.

Suara Tuyul Bengkak menyadarkan Trini. , Anak ini tersenyum. "Malu ah bilangnya!"

"Nggak usah malu-malu! Ini akan jadi satu berita besar, lho."

Trini mengangguk. "Memang, terus terang kami sudah lama pacaran. Mulai sama-sama masih di kelas satu..."

"Boma anaknya agresif nggak?"

"Ajie busyet! Kok nanyanya sampai ke situ?" Trini cemberut tapi kemudian tersenyum.

"Ajie busyet!" mengulang Tuyul Gendut. "Wah! Itu kata-kata baru. Nggak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Musti dicatet..." Lalu wartawan ini membuat catatan kecil dalam notes kecil yang sudah lecak dan selalu dibawa-bawanya.

"Bukan apa-apa. Soalnya kalau menurut saya Boma itu kan singkatan dari Bom Atom. Jadi pasti panas terus, bahkan sewaktu-waktu bisa meledak. Ha... ha... ha..."

"Kalau Boma Bom Atom, lalu situ Bom apa?" tanya Trini.

"Saya mah tetep aja Tuyul Bengkak!" jawab sang wartawan. "Oke deh. Terima kasih atas waktunya. Sampai
ketemu di PMI Bogor. Trini mengangguk. Begitu masuk ke dalam rumah anak ini melompat kegirangan. "Dwita! Rasakan kau! Kalau berita itu muncul di koran, semua orang bakal tau kalau Boma memang pacar gue! Lu boleh gigit jari!"
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar