Lagu ini enak gak..?

Sabtu, 17 Agustus 2013

Suka Suka Cinta (Bag.7 : Kabut Misteri)

Original created : Bastian Tito

KETIKA Letkol Polisi Kusumo Atmojo keluar dari Rumah Sakit di Sukabumi banyak wartawan dari  berbagai media telah menunggu. Ini satu hal yang
tidak diduganya. Perwira Menengah ini menggulung lengan  kiri jaket lorengnya. Jam di pergelangan tangannya me-nunjukkan pukul 11.25 malam.

"Wawancara? Sudah larut malam. Ini semua peristiwa  biasa. Buat apa wawancara segala?" Kusumo Atmojo me-nolak secara halus.

"Katanya waktu penyelamatan dilakukan ada berbagai peristiwa aneh di Gunung Gede," ucap seorang wartawan.

"Betul Pak. Kami hanya ingin mengkonfirmasikan. Karena Bapak sebagai Pimpinan Tim Pencari..."

"Tidak.... Bukan, saya bukan Pimpinan Tim. Pencarian secara keseluruhan dipimpin oleh Letda Sofyan dari  Kepolisian Sukabumi. Saya ikut melakukan pencarian  karena diminta puteri saya Trini. Rombongan anak-anak
yang hilang adalah teman-teman satu sekolahnya di SMA  Nusantara Tiga." Letkol Kusumo Atmojo melangkah ke  halaman parkir.

"Pak, tunggu...."

"Mengenai keanehan-keanehan itu, Pak..."

"Keanehan apa?" Kusumo Atmojo seperti tidak acuh.

"Menurut Letda Sofyan dan Pak Tatang dari Pos Pengawas Gunung Gede..."

"Wah, kalau memang ada keanehan tanyakan saja pada  mereka. Saya tidak menemukan keanehan apa-apa. Atau  nanti tanyakan pada anak-anak itu kalau mereka sudah  sembuh. Sekarang keadaan mereka masih kritis..."

"Tapi tak ada yang meninggal Pak?" tanya seorang  wartawati.

"Tidak, tidak ada." Jawab Letkol Kusumo. "Sudah, saya  capek. Mau segera kembali ke Jakarta."

"Kalau capek jangan jalan dulu Pak. Istirahat sebentar di  Kantin sana. Kopi tubruk paling asyik malam-malam  begini." Yang bicara sambil senyum adalah seorang warta-wan bertubuh besar gemuk, berjaket kulit dan pakai topi  pet dibalik. Dia mewakili sebuah tabloid ibukota dan di antara rekan-rekan wartawan dia dikenal dengan panggilan  Tuyul Bengkak. Nama ini cocok dengan keadaan dirinya
yang gemuk besar kepala botak licin yang selalu di-sembunyikan di bawah topi pet.

"Kamu ini pinter ngomong..."

"Kalau nggak pinter ngomong namanya bukan warta-wan, Pak. Jadi kita ke Kantin sana Pak?" kata Tuyul  Bengkak pula.

"Cukup di sini saja. Kalian mau tanya apa?"

"Mengenai keanehan itu Pak. Menurut Letda Sofyan  ketika tujuh anggota rombongan pendaki gunung ditemu-kan, mereka berada di tepi ketinggian tanah gunung yang  longsor. Mereka berada dalam kantong tidur plastik  masing-masing.."

"Itu betul. Apa anehnya?" ujar Letkol Kusumo.

"Ya pasti aneh Pak," jawab wartawan si pinter ngomong  Tuyul Bengkak. "Menurut Pak Tatang dari Pos Pengawas,  Ketujuh anak-anak itu ditemukan berjejer rapi seperti ada  yang mengatur..."

"'Siapa yang mengatur?"

"Nggak tau Pak. Justru kami tanya Bapak..."

"Saya nggak tau siapa yang ngatur. Mungkin itu cuma  satu kebetulan saja."
Seorang wartawan lain berkata. "Menurut saudara  Sambas, Wakil Kepala Pos Pengawas waktu evakuasi, dalam gelapnya malam dan buruknya cuaca paling cepat  dari lereng gunung sampai ke Pos akan makan waktu
sekitar lima jam. Ternyata Tim Pencari hanya membutuh-kan waktu tiga jam..."

"Lha, apa anehnya? Letda Sofyan punya pengalaman  dalam menangani berbagai bencana alam di gunung. Apa lagi beberapa penduduk ikut membantu. Juga jangan lupa-kan peranan Pak Tatang, Kepala Pos Pengawas...."

"Bagaimana pendapat Bapak tentang kunang-kunang?"  seorang wartawan ajukan pertanyaan.  Letkol Kusumo terdiam sesaat. "Kunang-kunang?"

"Betul Pak. Katanya sepanjang perjalanan menuruni  gunung ada sekelompok kunang-kunang terbang di se-belah depan rombongan. Seperti menuntun jalan....
Letkol Kusumo Atmojo hendak tertawa tapi tak jadi. Dia  mengusap dagunya yang ditumbuhi anggut-janggut pendek  kasar. "Kunang-kunang bisa saja muncul dimana-mana. Di  pinggir laut, di hutan, di gunung..."

"Katanya kunang-kunang itu lenyap begitu saja sesaat  setelah rombongan Tim Pencari selamat berada di kaki  gunung..."
"Saya tidak begitu memperhatikan. Waktu evakuasi di-laksanakan, saya tidak sempat memperhatikan..."

"Satu hal lagi Pak. Dua orang anggota tim yang meng-usung tandu bilang, bukan pekerjaan mudah mengusung  orang menuruni gunung, apa lagidi malam hari. Tapi waktu  mengusung anak-anak itu mereka tidak merasa berat
sama sekali. Enteng-enteng saja..."

"Namanya saja anak-anak, bobot mereka berapa sih  beratnya? Coba kalau si gendut ini. Pasti berat!" Letkol  Kusumo menunjuk pada wartawan si pinter ngomong yang  berbadan gemuk besar. Gelak tawa memenuhi halaman
parkir itu. Wartawan yang tadi bicara masih belum mau mengalah.

"Salah satu anggota rombongan pendaki gunung seorang  anak perempuan gemuk. Bobotnya paling tidak seratus  kilo. Tapi dua orang yang mengusung juga bilang enteng,  gak berat."

Letkol Polisi Kusumo Atmojo tersenyum. Dia menegak-kan kerah jaketnya lalu berkata.
"Anak perempuan gemuk itu, juga teman-temannya  hampir dua hari tidak makan-makan. Pasti badan mereka  pada kayak balon kemps semua. Pada enteng."

"Tapi Pak..." wartawan tadi kembali bicara. "Aduh, maaf  Pak, bulu saya jadi merinding Pak..."

"Kamu ini ada-ada saja. Merinding kenapa? Bulu yang  mana yang merinding?"
Ucapan Pamen itu membuat tempat tersebut kembali  dipenuhi tawa bergelak para wartawan.

"Sungguhan Pak, saya nggak bohong. Menurut salah  seorang pengusung, dibenarkan oleh beberapa orang lain-nya, seperti ada yang membantu mengusung anak-anak  itu."

"Wah, kalau ada yang bantuin ya bagus dong! Harus ber-terima kasih. Tapi situ tau siap yang membantu?" tanya  Letkol Kusumo pula.

"Itu yang membuat saya merinding Pak. Katanya yang  membantu mengusung itu tidak kelihatan. Tapi jelas terasa  ada..."

"Ah!" Letkol Kusumo lambaikan tangannya. "Siapa yang  membantu? Setan, demit, jin? Ada yang mengarang. Tapi.... Itu bagus buat berita sensasi. Muat di halaman pertama sebagai head line. Pasti oplaagkoran kalian naik. Ha.., ha... ha!" Habis tertawa Pamen itu melangkah menuju kendaraannya.

Sebelum masuk kedalam jip Letkol Kusumo berbalik. "Satu hal kalian harus ingat," katanya pada semua wartawan yang belum beranjak dari tempat masing-masing. "Berhasilnya penyelamatan tujuh anak SMA Nusantara Tiga itu adalah berkat bimbingan dan per-tolongan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan karena siapa-siapa."

Mata Pak Letkol berkedip kesilauan ketika lampu kilat  berkekuatan tinggi dari kamera seorang wartawan me-nyapu wajahnya.  Wartawan tabloid yang kondang dengan nama Tuyul  Bengkak itu bersandar ke pintu Suzuki Katana hitam,
membuka topi pet lalu mengusapusap kepala botaknya  yang keringatan. Sepasang matanya masih memandang ke  arah lenyapnya cahaya lampu belakarig kendaraan yang  dikemudikan Letkol Kusumo Atmojo.

"Letnan Kolonel itu..." Tuyul Bengkak bicara sendirian.

"Aku yakin dia tau semua keanehan yang terjadi waktu  penyelamatan dilakukan. Ada kandungan misteri besar  dalam peristiwa ini. Tapi mengapa Pak Kolonel berlagak  tidak tau? Apa alasannya? Jabatan? Religi? Apapun alasan-nya aku harus menemui dia sekali lagi. Juga anak gadisnya  itu. Trini. Banyak berita yangbisa digarap. Honorku bulan  ini bisa lumayan gede...." Tuyul Bengkak tersenyum. Dia pakai topinya kembali lalu masuk ke dalam Suzuki Katana.
***

KEESOKAN harinya, hari Rabu, banyak media masa  mem-beritakan berhasilnya penyelamatan tujuh anak SMA  Nusantara III yang mendaki Gunung Gede. Sebelumnya  sudah sering diberitakan musibah yang menimpa banyak
rombongan pendaki gunung. Tapi peristiwa sekali ini  dianggap satu kejadian langka. Umumnya dalam peristiwa  seperti itu jarang korban bisa diselamatkan, apa lagi se-cara keseluruhan dan setelah dua hari dinyatakan hilang.

Beberapa kejadian aneh seperti adanya kunang-kunang,
cepatnya waktu penyelamatan, adanya bantuan makhluk-makhluk gaib ikut pula diungkapkan dalam media. Nama  Letkol Kusumo Atmojo, Letda Sofyan, Nugroho Sutanto,  Tatang Suryadilaga, Boma dan teman-temannya disebut-sebut dalam pemberitaan.

Di ruang kerjanya pagi hari Rabu itu, Letkol Kusumo  geleng-geleng kepala. "Apa sih maunya wartawan-wartawan  itu. Segala makhluk gaib disebut-sebut..."

Tiga hari kemudian empat dari tujuh anak yang dirawat  di Rumah Sakit di Sukabumi diperkenankan pulang.  Mereka adalah Firman, Rio, Ronny dan Andi. Dua hari se-telah itu menyusul Vino dan Gita juga diperbolehkan  pulang. Kini tinggal Boma seorang diri. Tubuhnya diserang  demam tinggi dan sesekali disertai kejang-kejang. Selain  itu dari mulutnya sering keluar suara seperti mengigau.
Lalu sesekali suara Boma berubah menjadi suara  perempuan tua.
Atas permintaan kedua orang tuanya Boma kemudian  dipindahkan ke Rumah Sakit PMI di Bogor.
--------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar