Lagu ini enak gak..?
Sabtu, 17 Agustus 2013
Sebuah cerbung : Tentang Kita – ½ (bacanya bagian 1 dari dua ye)
By: Ivan Indra Tangara
Kantin 10 : 00
“oy kesini!!” teriak indra ke angga yang sudah duduk dengan semangkuk bubur di depannya.
“dah, u dah dapet bubur aja, bel istirahat baru menyalak juga.” Angga bingung.
“jah, Cuma cara klasik bro.. 10 menit sebelum istirahat, gw bilang minta ijin ke toilet.”
“Tapi kan u ngebohong bro?”
“sape ngeboong, bener gw ke toilet cuci tangan buat makan disini.”
“ck, eh eh bro.. liat deh hape gw.” Lanjut angga
“gw dah liat.”
“ih bukan masalah itu.”
“terus masalah gw ape.”
“u punya banyak masalah sama gw.”
“terus u mo nyari masalah sama gw?” sahut indra
“sapi ah, gw serius ini, baca sms terakhir di hape gw.”
Angga memberikan hapenya ke indra, sambil indra tak sadar dia menarik mangkuk bubur yang ada di hadapan indra.
“mah kaka sama ade nanti pulang telat, ini kaka udah jemput ade, tapi kaos kaki ade ilang sebelah, lagi lapor ke kantor kepsek…. Apa dah ga.. u nyuruh gw baca sms ke mak u?”
“yeeeeee… bukan outboxnya.. inboxnya..!!!” sewot angga sambil mengunyah sesendok bubur indra.
“ooh bilang dong…” langsung indra mengutak-atik hape angga yang tak seberapa canggihnya dibanding hape indra yang sudah andriod jelly bean, dengan processor quad core 1.2Ghz dan ram 1gb. Angga yang agak puyengan dengan teknologi masih megang hape jadul Cuma dengan platform symbian, dan itu pun untuk utak-atiknya angga masih butuh kursus ke indra dengan bayaran mem-peletek-i jari-jari tangan indra sampai bunyi tak tuk bletak duarr.
Pernah dulu indra coba mengajarkan, cara mengembangkan aplikasi java dengan program netBean di komputer indra. Besoknya angga langsung kena gejala typhus.
“lha.. u diancem bro.” lanjut indra
“sesuai yang u baca.. gw juga ga tau siapa.”
“bagus dah bro, akhirnya u diancem.”
“lha kok bagus.”
“u pernah diancem sebelumnya gak?”
“belum bro.”
“nah, bagus pengalaman pertama kan.”
“wah begitu ya, jadi harus kita rayakan?” sahut angga polos-polos bego
“iyalah.. u traktir gw berarti ya, gw lagi mesen makanan nih.”
“lah ini bubur yang gw kunyah punya siapa?”
“oohh.. itu sisa mang sanip tadi abis ngobrol sama gw.” Jawab indra.
Mang sanip, penjaga sekolah usia 28-an yang terkenal buaya. Mulutnya sebau mulut buaya maksudnya beserta karakter yang banyak omong yang hanya memperburuk keadaan, sampai anak-anak bilang, waktu mang sanip masuk kelas untuk menyalakan AC setiap pagi, jadi banyak yang tak bisa membedakan antara kelas dan bantar gebang. Karena itu yang giliran piket pagi di setiap kelas selalu menyiapkan pengharum ruangan untuk disemprot-semprot ke segala arah setelah mang sanip pergi. Bahkan sinta, ketua kelas XII IPA 3 sempat saking kesalnya, menyemprotkan pengharum ruangan ke mulutnya mang sanip yang sedang berbicara bertubi-tubi tanpa henti, anak-anak kelas IPA 3 langsung berteriak “fatalityyyy…… yeeeeeyy!!!” (diambil dr mortal kombat hehe)
MMMBRRRUUUUPPPPPPP PUAAAAHHHH..!! angga langsung menyemburkan bubur yang sebagian sudah masuk ke usus 12 jari, 3 lengan, dan 4 kakinya.
“u tahan ngobrol ma die?” sambung angga sambil enek
Indra mengambil kapas di lubang hidung sebelah kiri yang dia pakai untuk menyumbat tadi menunjukkan ke depan muka angga, “butuh perjuangan keras bro, satu lobang juga nyiksanya banget-banget.”
HOOEEEEKKKKK.. angga makin mual
13.00 pulang sekolah, di dalam kelas indra
“yo cabut” bilang angga ke indra
“bentar pensil gw ilang”
“pensil kayak gimana?”
Indra mengambil pensil yang disangkutkan di telinga kirinya, “kayak gini bro.”
“nah itu” jawab angga
“oh iya, hebat u yakk!!! Dari tadi gw nyariin.”
Angga diem aja, sambil nyengir sinis tipis ngeliat sohibnya yang suka aneh seperti itu. Disamping kecerdasannya indra memang suka aneh-aneh. Sampai bener-bener banyak gosip yang beredar kalau indra naruh harddisk dua terabyte di kepalanya sampai bisa secerdas itu, efek sampingnya ada kabel yang agak kesenggol jadi mau lepas soketnya sampe indra suka error begitu. Malah waktu praktek renang tahun lalu, si udin iseng menepuk pundak indra dari belakang di kolam renang, si udin langsung teriak “aaaaaaaa… indra nyetruuummm!!!” udin langsung kejang-kejang dan pingsan, dan langsung dilarikan ke pa dono yang menyangka udin tenggelam dan langsung melakukan CPR dengan napas buatan. Gak lama, udin langsung sadar dan teriak “aaaaaaa… pak dono nyium sayaa!!” udin langsung pingsan lagi.
Masih belum diketahui jelas apa penyebab kasus itu, indra yang memang mengalirkan listrik dan air yang membasahi tubuhnya menjadi konduktor atau si udin yang memang kesambet jin penjaga kolam renang. Masih misteri. Namun angga tetap yakin, kalau ibu indra sebenarnya tak melahirkan indra, tapi orangtuanya mendownloadnya dari situs penjualan anak illegal, produk black market yang tak ada garansinya.
Besoknya, 06 : 20
“duh, mana si badak…” gumam angga yang menunggu indra yang tak datang-datang menjemput angga. Yang biasanya selalu memanggil angga dengan aneh-aneh. Pernah suatu saat indra berhenti di depan rumah angga yang jaraknya dari ujung gang selatan ke ujung gang utara, langsung teriak, “KEBAKARAAAAANNN KEBAKARAAAAANNN!!!” sontak bukan Cuma angga yang keluar, keluarga angga dan orang-orang dari 6 rumah sebelah selatan rumah angga pada keluar.
“mana kebakaran ndra??!!!” papih angga langsung menyahut, dan angga masih sibuk terguling-guling karena kaget ketika mengikat tali sepatu sampai tali sepatu kana terikat dengan yang kiri.
“hehe, engga om, Cuma mo manggil angga biar cepet keluar.”
Seketika pak jono datang, tetangga mereka yang agak parno, karena pernah tersetrum tiang listrik waktu membenarkan lampu di gang, membawa seember penuh air bicara, “Mana de??!! Mana sing bapa harus siramm?!!” sambil tetangga lain datang menyusul rusuh, ada yang masih bawa hair dryer, ada yang bawa-bawa koper, bahkan bu marni istri pak jono, membawa wajan teflon keluar lengkap beserta telur ceploknya keluar.
Indra langsung grogi, tanpa pikir panjang “bro cabut!!”, angga langsung sigap membuka sepatu yang sudah kusut bagai benang layangan gelasan yang telah kalah, layangannya telah putus, dan kehormatannya terenggut dalam duel di angkasa hanya menyisakan malu (lebay, tapi bener rasanya kalah maen layangan begitu hahah *penulis sempat trauma dan memutuskan bertahun2 tak main layangan lagi, serius). Langsung angga loncat ke jok belakang dan mengalungkan sepatunya yang terikat kusut ke lehernya. Dan mereka berdua cabut bagai maling yang tak dapat hasil apa-apa namun telah ketahuan warga.
Dan tetangga mereka beserta papih angga Cuma bisa bengong, menyaksikan dua anak ajaib yang belasan tahun ini hidup bersama mereka.
Tapi itu dulu. Sampai jam segini indra belum datang, langsung saja angga lari-lari kecil menyantroni rumah indra yang dia lihat sepi, terkunci, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan, “haduuuuhhhh.. disetrap pak bagio lagi dah gw.” Gumam angga.
Langsung angga lari kerumahnya mengambil sepeda gunungnya, dan siap-siap berangkat, sontak mamih angga bertanya, “lho, kamu ga bareng indra ka? Kok naik sepeda?”
“keluarga indra diculik alien mih, rumahnya kosong melompong, nih kaka mo buru-buru ke sekolah nanya ke pak madi, mungkin dia tau alamat rumah aliennya.” Sambil ngibrit tanpa basa-basi ke sekolah, mamih Cuma bisa tarik nafas melihat kelakuan anak laki pertamanya itu sambil geleng-geleng kepala. Dan, pak madi memang guru yang menjadikan indra anak emas, guru komputer paruh baya yang sama anehnya dengan indra, perkat pelatihannya indra memenangkan kompetisi programing C++ di salah satu kampus di kota tahun lalu, dan mereka berdua merayakannya dengan tarian robot setelah mendapat medali emas tepat di atas panggung setelah anugerasi juara. Pak darmawan yang menjadi kepala sekolah Cuma bisa tepuk jidad.
13 : 15 Pulang sekolah, di jalan di atas sepeda
Angga masih heran kemana indra beserta keluarganya, dari tadi indra di sms dan di telepon handphonenya ternyata mati. Itu membuat angga masih gelisah, karena indra yang selalu update berita apapun tak pernah membiarkan smartphonenya mati selama ini. Bahkan dulu jaman smp waktu power bank belum ada di pasaran. Indra sampai membawa aki kering yang dikonversi voltasenya disesuaikan dengan hapenya ditaruh di kolong meja di dalam kardus dengan tulisan “stok buku paket setahun, jangan diganggu gugat, atau gw tuntut pake pengacara hotman sitompel.”
Angga bener-bener khawatir, ditambah kesel karena berkat nunggu indra yang tak kunjung datang akhirnya dia di setrap pak bagio diperintah mengepel sekolah, sampai pak marno yang jadi guru piket memastikan lantai mushola kinclong sekinclong-kinclongnya. Dites dengan cara aneh, dia berkaca ke lantai keramik mushola dengan sisir yang dikeluarkan dari sakunya, lalu dia menyisir kumisnya, bila kumisnya masih dirasa berantakan, angga disuruh mengulang mengepel, itu karena mengepelnya kurang bersih jadi kumisnya tak rapih katanya. Alhasil habislah waktu tiga puluh menit di romusha pak bagio dan pak marno.
Akhirnya angga berhenti, di depan tukang es kelapa, karena haus siang-siang begini harus menempuh jarak 3 kilometer dari sekolah ke rumahnya, masih penasaran dengan keadaan indra, akhirnya angga mengeluarkan hape di sakunya dan coba menelpon indra lagi, tuuutt.. akhirnya tersambung, pada nada sambung ketiga ada suara di seberang sana, “assalamualaikum.”
“waalaikumsallam, u dimana bro.”
“jangan cari gw ga.” Balas indra
Bersambang, eh bersambung….
(hmm, berikutnya…. ? tunggu pas waktu sempet nulis lagi.. heheh)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar