Lagu ini enak gak..?
Sabtu, 17 Agustus 2013
Suka-Suka Cinta (Bag. 3 : TRINI)
original created : Bastian tito
BOMA agak bingung., Dwita tenang saja. Perlahan-lahan
dilepaskannya pegangannya pada tangan Boma. Lalu sambil senyum dia berkata. "Aku pergi Bom.
Nanti cerita yang banyak ya..."
Boma menjawab tidak, mengangguk juga tidak. Dia melirik ke arah Trini sekilas. Saat itu Dwita sudah
beranjak, melangkah ke pintu. Di ambang pintu dua cewek itu saling pandang. Trini unjukkan wajah ditekuk. Dwita tenang saja.
Malah menegur. "Rin, aku duluan ya."
Trini tidak menyahut. Kepalanya tidak menoleh tapi matanya seperti mau diputar ke belakang memperhatikan Dwita. Lalu Trini Melangkah memasuki warung, duduk di kursi di depan meja Boma. Setelah menatap wajah Boma, Trini bertanya.
"Ngapain 'tu cewek datang ke sini?"
"Ngobrol..."
"Ngobrol? Di warung segede ini cuma kalian berdua? Ngobrol? Kok pakai pegang-pegangan segala?"
"Dia yang megang, bukan aku," jawab Boma. Sesaat dia masih bingung, kemudian sambil menyandarkan pung-gung ke kursi dia mulai bersikap tenang. Trini tersenyum.
"Pasti dia pengen ikutan."
"Ikutan apa?" tanya Boma.
"Ala, berlaga nanya lagi. Memangnya aku nggak tau. Kaudan teman-teman 'kan punya proyek yang namanya GG. Gunung Gede."
"Kok tau?" tanya Boma.
Trini tidak menjawab. Malah balik bertanya.
"Dikasih?"
"Kok kamu mendadak sibuk sih, Rin? Biasa-biasanya acuh aja sama aku, sama teman-teman."
Trini menguncupkan bibirnya. Dua matanya memper-hatikan amplop di atas meja.
"Apaan 'tuh?"
"Amplop," jawab Boma.
"Ya amir. Aku nggak buta Bom! Jelas itu amplop! Yang aku mau tau isinya apa? Surat, batu, pasir?!"
"Tau, liat aja sendiri!" Boma mulai kesal. Dia yakin Trini tidak mau mengambil amplop itu. Apa lagi melihat isinya. Keyakinan Boma meleset.
Tangan kanan Trini bergerak. Diambilnya amplop di atas meja. Enak saja dirobeknya salah satu sisi pendek, lalu mengintip isinya. Tidak ada surat, batu atau pasir. Yang ter-lihat adalah setumpuk lembaran uang puluhan ribu. Masih baru-baru. Sekilas bisa diduga paling tidak jumlahnya sekitar dua ratus ribu.
"Wauw! Banyak amir!" kata Trini.
"Si Trini itu nggak tau etiket! Surat orang enak aja di-buka!" Gita Gendut mengomel di tempat pengintipan di dalam dapur.
"Soalnya si Boma ngebiarin aja! Sok sabar! Si Trini jadi lancang. Songong!" kata Rio kesal.
"Sekarang tanggal berapa ya?" Trini bertanya pada Boma.
"Tau, memangnya kenapa?" Boma balik bertanya, heran.
"Nggak, aku kira akhir bulan. Kau baru terima gajian dari puteri Duta Besar itu."
"Ah, kau becanda aja Rin." kata Boma mulai gerah. Lalu menowel hidungnya.
"Duit buat apa-an?" tanya Trini.
"Dia nyumbang. Buat temen-temen yang mau naik ke Gunung Gede..."
"Nggak heran. Anak orang kaya. Duit segitu sih nggak ada artinya. Lalu imbalannya kau dapat apa Bom?" tanya Trini.
"Nggak dapat apa-apa. Lagian siapa yang minta imbalan?"
"Cuma bisa ngelus tangan doang?"
"Aku enggak ngelus. Dia yang ngelus," jawab Boma Trini tertawa.
"Uh, ketawanya kayak kuntil anak kebelet beo!!" bisik Vino di belakang dapur. Membuat teman-temannya cepat menekap mulut menahan tawa.
"Pasti kau mengajak dia ikut naik ke Gunung Gede."
"Dia memang minta tapi aku dan teman-teman tidak mau..." Boma menyahuti ucapan Trini.
"Cewek secakep itu ditolak ikut? Sungguh satu tragedi. Aku nggak percaya. Cewek anak Duta Besar. Pasti pandai diplomasi. Pasti kau nggak bisa nolak permintaannya."
"Rin, kau ini lama-lama aku rasa seperti serse nanyain tangkapan..." Kekesalan Boma mulai keluar.
"Bisa saja begitu. Percuma bokapku polisi." Jawab Trini. Ayah Trini memang seorang perwira menengah di Polda.
"Maksudku, kau perlu-perlunya datang, tanya ini itu. Padahal selama ini..." Boma tidak meneruskan ucapannya.
"Padahal selama ini kenapa?" tanya Trini.
"Kita satu kelas dari kelas satu. Lalu sama naik kelas dua. Juga bakalan di kelas yang sama. Selama ini aku
ber-usaha berteman dekat sama kamu. Tapi kamu selalu acuh. Janganin mau pulang bareng, pinjam buku atau nanya sesuatu saja kau rasanya seperti bukan teman satu sekolahan. Kalau berteman kau milih-milih. Lalu waktu Dwita masuk enam bulan lalu, aku lihat kau banyak ber-ubah.
Puncak perubahan adalah saat ini. Dengan segala keanehannya..."
"Aku rasa aku enggak berubah, enggak ada yang aneh. Coba lihat wajahku. Lihat tubuhku..." Trini bangkit
berdiri. Dua tangannya dinaikkan ke atas hingga pangkal ketiaknya terlihat putih menantang. Lalu dia memutar badannya seratus delapan puluh derajat. "Kau liat Bom, apa yang berubah pada diriku? Coba bilang?"
Di dapur Gita menyikut Vino sambil berbisik. "Liat, lagak-nya si Trini gombal. Kayak peragawati aja."
"Potongan sih ada, jaitan yang nggak pas," jawab Vino.
Boma tertawa, menowel hidungnya lalu bertanya.
"Benarnya, terus-terang ada apa sih kau datang ke sini Rin?"
"Nah, gitu dong! Basa-basi dikit!" kata Trini sambil senyum. Lalu dia duduk kembali. "Terus terang, terang terus, aku mau ikutan."
"Ke Gunung Gede?"
"Memangnya kau dan teman-teman mau ke Gunung Sindur?"
Boma tertawa kalem.
"Tadi Dwita juga minta ikut. Aku dan teman-teman menolak..."
"Di sini aku lihat cuma kau sendirian. Memang aku lihat ada motor si Celepuk di luar. Tapi orangnya tau dimana. Kau menolak Dwita, sebodo teuing! Apa kau juga menolak aku Bom?"
"Sama saja Rin. Kami sudah sepakat untuk tidak me-nambah anggota baru. Dwita bisa mengerti..."
"Jangan samain aku dengan Dwita dong Bom. Dia memang anak Duta Besar. Anak orang kaya. Tapi terus-terang dia masih belum bisa masuk level kita-kita..."
Di dapur Gita Gendut pencongkan mulut dan hidungnya lalu mencolek Ronny Celepuk.
"Keren banget tu cewek.Ngomong soal level segala. Uhh.... Ron, lu level berapa sih? Level one, two, three...?"
"Gua sih Level three in one!" Vino yang menyahuti.
"Rin...," kata Boma pada Trini, "Aku janji,
nanti kalau aku dan teman-teman naik gunung lagi, kau pasti kami bawa."
Trini tertawa.
"Kok, ketawa?" tanya Boma.
"Aku jadi ingat nyanyian tempo dulu. Tinggi gunung Seribu Janji. Lain di mulut lain di jidat."
Boma menowel hidungnya.
"Kalau Boma yang janji pasti nggak pernah ngawur, deh."
"Oo... begitu?" ujar Trini. "Gita kok diajak?"
"Dia punya pengalaman. Pernah ikut tim Mapala UI."
"Oo, bukan karena dia gemuk. Jadi enggak perlu pakai kasur."
"Sialan! 'Tu cewek bacotnya kok jadi kurang ajar begitu. Minta gue tampar apa?!" Di dapur Gita mengomel marah. Dia hendak melangkah keluar dari balik dinding dapur. Tapi Firman cepat memegang bajunya. "Sabar 'Ndut,orang sabar cepet singset. Lu mau kurus 'kan?"
"Ah, lu juga brengsek!" sungut Gita. Matanya mendelik, diarahkan pada Trini. Mulutnya mengomel. "Cewek, biar cakep kalau mulut usil pasti nggak ada cowok yang demen liat! Kapan-kapan gue kerjain 'tu anak! Belon tau Gita Gendut ya...!"
Boma menyengir mendengar ucapan Trini tadi.
"Bom, gini aja. Nggak boleh ikut nggak apaapa..Tapi sekarang anterin aku pulang...".
Di belakang dapur Vino berbisik pada teman-teman-nya.
"Kok si Trini jadi kolok. Dulu Boma sampai
nguber-nguber. Boroboro dilirik sebelah mata, sebelah ketek juga nggak. Malah Boma sering-sering dikerjain..."
"Sekarang lain," jawab Andi. "Trini punya saingan sejak enam bulan lalu. Kawatir Boma lolos ke tangan Dwita, kini dia ganti yang ngejar. Ini namanya semacam politik dumping!"
"Mending kalau dumping," Vino menyahuti.
"Jangan-jangan politik kuda lumping. Jalan baru satu langkah, tapi goyang udah lima kali...." Lima mulut sama ditekap menahan tawa mendengar kata-kata Vino itu.
Boma bingung. Mau ngantar Trini apa tidak. Kalau di-antar kelanjutan hubungannya dengan Trini bisa mulus.
"Mungkin cewek ini udah tobat ngerjain aku..." pikir Boma. Saat itulah dari balik papan tripleks di sudut dapur Boma melihat ada enam tinju dikepal ke udara. Boma terpana. Coba mengartikan apa maksud enam kepalan teman-temannya itu.
Dia maklum, kira-kira begini artinya:
"Awas lu kalau mau-mauan nganterin Trini!"
Trini memperhatikan mata Boma. Anak lelaki ini tidak memandang kepadanya, tapi melihat sesuatu di belakang sana. Trini menoleh. Enam tinju serta merta lenyap dari belakang papan tripleks. Tapi sekilas mata Trini sempat melihat bayangan enam tangan itu. Anak ini segera saja berdiri dari kursi.
"Celaka, ketahuan!" kata Boma dalam hati.
"Rin, duduk dulu," Boma coba mencegah, jangan sampai Trini menyeli-dik ke dapur. Tapi cepat sekali Trini sudah nyelonong ke dapur. Di dalam dapur, di lantai di balik papan triplek enam anak duduk bertumpuk berdempetan. Mata sama-sama mem-besar memandang pada anak perempuan yang berdiri di depan mereka. Trini menyeringai. Sambil bertolak pinggang berkata.
"Hemm.... Jadi kalian ngumpet di sini rupanya. Kayak tikus aja. Nanti aku bilang sama Mang Asep supaya nebarin racun tikus!"
"Kalau kami tikus, kau kucingnya!" kata Firman tapi sambil nyengir.
"Kucing garong!" menyambung Gita gendut.
Trini keluarkan suara mendengus dari hidungnya lalu cepat-cepat beranjak dari dalam dapur, terus keluar dari dalam warung. Boma bangkit berdiri dari kursinya, menyusul.
"Gile si ajie busyet itu!" kata Firman tidak tenang. "Mau juga dia nganterin Trini..."
Selagi Boma dan Trini melangkah menuju pintu gerbang sekolah, tiba-tiba terdengar suara Vino.
"Teman-teman, liat di atas meja!"
"Amplop dari Dwita ketinggalan! Geblek amat si Boma itu! Amplop berisi uang ditinggalin begitu aja!"
Ronny, Firman, Rio dan Andi berserabutan melompat masuk ke dalam warung. Ronny lebih dulu menyambar dan mengamankan amplop tebal itu.
"Awas! Ada yang berani nilep gue jitak!" Tiba-tiba Boma muncul di pintu warung.
"Ngeliat aja belon sempet Bom! Apa lagi mau nilep!" kata Ronny lalu melemparkan amplop berisi uang itu ke arah Boma.
"Bom, kau nggak jadi nganterin kucing garong itu?" Gita tiba-tiba bersuara.
Boma menggeleng. Ternyata tadi dia cuma mengantar Trini sampai di depan pintu gerbang sekolah.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar