Lagu ini enak gak..?

Sabtu, 24 Agustus 2013

*TIGA LAMARAN CINTA *



Namanya Suyati Binti Mahmud. Cewek desa yg MACAN alias Masya Allah cantiknya, energik, supel, gaul, pede dahsyat, tapi otaknya rada oon.

Hari ini suyati lagi galau berat tingkat dewa. Pasalnya, ada 3 cowok mendadak melamarnya pada saat yg hampir bersamaan. Tidak ada kebingungan yg lebih membingungkan selain kebingungan menentukan pilihan, apalagi ini pilihan tentang jodoh.


Cowok pertama bernama Ardi. Dikenalnya pas nonton topeng monyet di alun-alun kota. Waktu itu ardi yg lagi asik merekam pakai handycam, gak sengaja menginjak kaki suyati yg imut bersandal jepit.


“Adooowwww…”, teriak suyati kesakitan.

Ardi menoleh. Mata mereka beradu pandang. Ardi terpana sesaat, sebaliknya suyati malah mengulurkan tangan.


“Saya Suyati, kamu siapa? Mau batu giok..?” suyati mengulurkan sebuah batu giok yg tadi dicomotnya dari pedagang yg jualan di alun-alun itu.


Ardi tersenyum heran. “Batu giok? Oh siapa takut? Saya ardi, seneng dapet batu giok dari kamu. Emmm kaki kamu enggak papa kan?”

Mendengar suara dan tatapan mata ardi, sebenarnya suyati kelepek-kelepek juga. Udah lebih dari 2 tahun dia haus tatih tayang sejak putus dengan pacarnya. Tapi, demi imej yg kudu dijaga dan langit yg mesti dijunjung, juga demi iman dan imin yg harus kuat biar syaiton terkutuk itu mental jauh-jauh, maka Suyati menggoyangkan  dan menggerak-gerakkan 10 jari kakinya yg lentur.

“Tuh enggak papa..”, kata suyati kemudian. Busyet, itu kuku kaki gue kok item ngejuntai gini sih? Batin suyati. Lalu dia mengalihkan perhatian dengan berkata,

“Bagus enggak batu gioknya?” tunjuknya tiba-tiba ke tangan ardi. Tatapan ardipun beralih dari kaki suyati ke batu giok.

“Bagus kok…”, keduanya diam sebentar.

Ardi memperhatikan wajah suyati dengan cermat. Tahi lalat kamu di samping hidung ngejual banget, kiut…manis…enggak banyak kerutan.

Disisi lain, suyati juga menganalisa sosok ardi. Hmmmm…cukup menyenangkan, tapi keknya doi banyak utang deh, kredit macet, asset disita, playboy cap duren tiga.

“Anak kamu udah berapa..?”, tanya ardi kemudian.

“Anak…? Gue mah singgel tauk. Belum nikah tuh! Kenapa? Emang body gue bahenol yak?”, jawab suyati. Pedenya keluar dengan sempurna.

Ardi mengerenyit. Dalam hati berkata: iya, bahenol. Badan Hebat Otak Nol.

“Ennngggggg….gimana yah..”, belum sempat ardi melanjutkan ucapannya, suyati malah mendadak lari terbirit-birit.

Tiba-tiba dari belakang ada seorang pemuda menepuk bahu ardi.

“Mas, batu giok itu belum dibayar….”

Ardi menoleh. Ia kaget setengah mateng ngeliat muka si pemuda yg tertutup kain putih, ardi ikutan ngaciiirrr. Doi emang phobia ama kain putih, karena mengingatkan ama kebaya neneknya yg selalu bau pesing.

Ardi dan suyati ternyata ketemu di tempat persembunyian yg sama, ngumpet di kolong meja warung cendol.

“Siang-siang kok pocongan seh tuh orang…”, kata ardi ngos-ngosan.

“Mene ketehe…”, ceplos suyati yg lebih takut dikejar debt kolektor daripada hantu jadi-jadian.


Nah, begitulah cerita perkenalan Ardi dan suyati. Sejak kejadian itu mereka deket. Ardi yg seorang fotographer dan berkumis tipis itu merasa menemukan sosok periang bersama Suyati. Dan tepat 3 hari setelah perkenalan itu, ardi meminta suyati jadi istrinya.

Tapi dasar suyati yang sok jual mahal dan jinak jinak burung hantu, lamaran ardi digantung gitu aja. Sikap yg sekaligus bikin cowok-cowok geregetan pengin nonjok. Ibunya suyati bahkan pernah menyindir sikap suyati yg ‘mau tapi enggak mau’ nya itu.

“SUYATIH…sampe kapan kamyu jadi begindang heh ? (nyokap suyati ternyata juga gaul euy!). Liat tuh tantemu, di hari tua kerjaannya cuma ngitungin ekor kambing yg lewat didepan rumah. Coba kalu dulu dia kawin, eh nikah, enggak bakal kesepian deh hidupnya…”.

Tapi apa kata Suyati..?

“Calm down mamih. Jodoh itu complicated. Suy mesti dalem mikirnya kalu soal jodoh, gak kayak milih bakwan di pasar. Bae the wae, meski tuwir-tuwir gene, Suy kan masih bisa ‘ngejaga’ yang satu itu. Mamih mestinya bangga dwong. Guwe gito loh..!”, sekali lagi, gaya pede suyati keluar.

‘Iye iye..tapi inget yee, virgin itu aja enggak cukup buat modal cinta apalagi perkawinan. Jangan sombong dengan ke-tingting-an kamu ituh. Tentukan pihanmu dari sekarang. Trus bikin cucu buat mamih. Eh..tolong ambilin pencukur bulu di kamar mamih dong…!” (????)  :D :D

*****

Tak lama setelah itu, hadir cowok kedua dalam hidup Suyati. Namanya Miftakh. Cowok flamboyan yg katanya anti makan sayur-sayuran itu paling demen ama dugem. Mereka ketemunya gak sengaja didalam lift di gedung rumah sakit. Niat Suyati menuju ke lantai 3 sambil menenteng sebuah map.

Waktu didalam lift itu Cuma ada mereka berdua. Saat itu suyati melihat ada sebuah permen karet Buble Gum kesukaannya menggelepar dilantai seolah minta diadopsi. Tanpa membuang kesempatan dan tanpa rasa malu, suyati berjongkok mengambilnya. Tapi sayang, mapnya jatuh dan kertas berhamburan didalam lift.

Miftakh berusaha menolong merapikan kertas yg berserakan di lantai. Tangannya gak sengaja bersentuhan dengan tangan suyati (ih persis kayak sinetron deh). Tapi pas suyati mendongak, tepat saat itu matanya kelilipan. Suyati mengedip-ngedipkan matanya 2x utk mengusir perih. Ting ting ! dan kedipan suyati itu disalahartikan oleh miftakh. Suatu kedipan yg dimaknai sebuah ‘undangan’ oleh miftakh.

“Boleh tau nor hape kamu?”, miftakh mulai menebar senyum buayanya.

“Apah..?”, jawab suyati lugu, persis lutung gunung gayanya. Tangannya tak henti mengucek-ucek matanya.

Miftakh pelan-pelan mendekat hendak membantu meniup mata suyati. Niat itu secara reflek ditepis oleh suyati. Miftakh pantang mundur, dia berniat baik mau membantu suyati meniup debu yg masuk ke matanya. Tapi niat baik miftakh jadi boomerang buat dirinya. Dengan gaya sok lembut dia mendekat lagi ke wajah suyati hendak meniup matanya. Tapi Miftakh malah mendapati bunyi PLAK! Pada pipi kirinya.

Sebelum keluar dari lift, suyati masih sempat berjongkok mengambil kembali permen karet yg jadi biang kerok itu. Lalu melambaikan tangan mengucap salam perpisahan: “bye cowok….”. suyati mengibaskan rambutnya sekali, lalu berlalu dari hadapan miftakh.

Dua hari kemudian, suyati mendapati di meja kerjanya sebuah buket bunga mawar berpita ungu, dan satu boks nasi timbel komplit plus dengan es krim dan buah-buahan. Didalamnya ada tulisan:

Aku suka kamu,
Mau gak kamu menemani hidupku sampai hari kiamat?!
Luv, Miftakh.

******

Dan cowok ketiga itu adalah…Pria bule blasteran Perancis-Depok. Namanya John Badrun. John adalah nama perancisnya, sedangkan Badrun adalah nama jawanya.  Tapi dia lebih suka dipanggil ‘Badrun’ saja, lebih merakyat katanya.  Badrun adalah sosok pemuda kota. Tipe cowok stereotip alias manusia yg resah dengan kehidupan nya didunia sekaligus pasrah kepada kehendak Yang Maha Kuasa. Intinya: Sholeh tapi gaul. 

Badrun muncul ketika suyati sedang bingung dikejar terror deadline oleh dua cowok sebelumnya. Ia yg memberitahukan bahwa daya tarik suyati justru pada sikapnya yg seolah-olah enggak butuh pendamping hidup. Anget-anget tahi ayam, eh maksudnya anget-anget serabi oncom, gitu istilahnya. Mau tapi enggak ngotot.

Mereka berkenalan waktu suyati bersama keponakannya ikutan lomba adu jangkrik di halaman sebuah mall.

“Ayo jengky majuuuu..! Wooyyy..jalan atuh, aduh jangkrik sialan. Kenapa diem aja sih!”, suyati memberi semangat pada serangga kecil berwarna hitam bergender jantan itu.

Si Jengky yang lemot dan kebingungan mendengar teriakan suyati malah menabrak tripleks pembatas arena adu jangkrik.

“Koooeerang ajar manusia-manusia sinting ini. Bikin puzing aza. Awa lu gue gigit nanti..!”, ancam si jengky yg bahasanya hanya bisa dimengerti oleh semut disebelahnya.

“Apa lo bilang..?”, kata si Semut bohai.

“Enggak. Hihihihi….”, jawab jengky tersipu centil.

“Tante, si jengky kayaknya mesti ditiup dulu biar ngejoss energinya..”, usul semut itu yg membawa efek brutal pada darah muda jengky. Jengky melenting bak meteor menerjang lawannya, tapi dia salah gerak. Harusnya jengky menggigit lawannya tapi doi malah mengepakkan sayapnya, terbang melenting keluar dari pembatas tripleks. Tuiiinnnnggg…selanjutnya…

“PLok…!”, si jengky nancep tepat di pangkuan John Badrun yg sedang duduk sambil dikerubuti cewek-cewek cantik dalam upaya mencari perhatian badrun.

“Astaghfirullaahhh…”, ucap Badrun. “Siapa namamu, nduk..?”, Tanya Badrun kepada si jengky yg sempoyongan di pangkuannya.

“Ummmm..maap itu jangkrik saya..”, kata suyati tanpa basa basi sambil langsung mengambil jengky dari pangkuan cowok itu yg tampaknya ingin menjodohkan tuannya dengan John Badrun.

Ketika jengky dipaksa bertarung lagi di ronde berikutnya, doi malah terbang dan mendarat kembali di pangkuan badrun.

“JENGKY..jangan ganjen ah! Gue semprot lu pakai baygon ntar yee…!”, suyati berusaha menarik-narik jengky dari pangkuan badrun karena kakinya merekat di celana panjang badrun jadi agak susah diangkat.

“JANGAAANN..Tante!”, jerit keponakan suyati histeris.

Si jengky tetap enggan beranjak. Kakinya justru dipancang lebih kuat di celana panjang badrun.

“Udah..biarin ajah. Lebih baik kita ngopi-ngopi dulu disini..”, ajak badrun yg membuat cemburu cewek-cewek di sekelilingnya.

“iiihhh..ogah!”, ujung mata suyati melirik ke sosok ‘dayang-dayang’ yg mengelilingi badrun. 
“Gue bukan penganut poligami tauk..!”, lalu suyati ngeloyor pergi.

Sebelum bener-bener lenyap, suyati berpaling: “Oiya, tolong nanti kembaliin jangkrik gue kalu dia udah jinak”.

John badrun yg tinggi mengejar langkah suyati. Si jengky yg masih nyangkut di paha badrun otomatis ikut. “Non, 3 dikali 4 sama dengan berapa..?”.

Suyati meski jutek tapi sempat menjawab: “Lima belas..!”.

“Kalau aku melamar kamu sekarang gimana? Secoro, aku juga penganut monogami kok!”.

Kejadian sebenarnya adalah: suyati dilamar on the spot. Bahwa sebenarnya ada konspirasi antara John Badrun dengan ponakan suyati. Karena blognya suyati udah dibaca Badrun sebelumnya. Sejak saat itulah mereka jadi akrab.

So..?? Kelompok yg tersingkir memilih pulang kerumah masing-masing. Mereka adalah korban hukum sebab akibat.
Cogito Ergo Sum, itu bahasa perancisnya. Artinya : Bego Lo Sum..! (eh enggak ding, ngawur aja kok :D ).


***********

Setelah 3 kejadian beruntun dari 3 cowok itu hadir dikehidupan suyati, dia menerima sms hamper setiap menit yg isinya tuntutan jawaban secepatnya dari lamaran 3 cowok tersebut. HP bukan saja menjadi sarana tercepat dalam berkomunikasi, tapi juga sebagai alat menteror paling efektif bagi kelompok cowok dan cewek paranoid yg menunggu cintanya dibalas, sekaligus mencaci maki saingannya seenak udele dewek.

SMS dari Ardi, Miftakh, Badrun :
“MANA JAWABANNYA…!!! DAH KAKU NEH JEMPOL KITE MENCET TOMBOL HAPE. BURUAN SAY…!”

SMS dari nomor tak dikenal:
“Heh Suketi eh suyati ! ihh..nama lo kampring banget seh? Hmmm, gue mo nulis apa yak? O iya..lo jangan coba-coba mencaplok laki gue yah , Awas! Kayak kebagusan aja lo. Catet neh, gue tunangannya Miftakh. Jangan ganggu hidup gue. En satu lagi, ada amanat dari Vina pacaranya John Badrun: MENYINGKIR atao Lo MATI ! Oke..? Pizz !”.


Suyati disms begito bukannya sakit hati dan marah tapi malah nyengir kegirangan. “Miftakh dan Badrun ternyata punya cewek? Asyiikkk, hilang deh dua virus pengganggu hari-hari gue”.

SMS masuk lagi:
“Hay sayang, dah maem belom neh..? Aku Etty, istrinya Ardi. Udah 10 tahun lho kita menikah. Tapi Ardi letoy. Aku justru bergairah ama cewek. Kita pacaran yuukkkk? Muach…!”


“Busyet..enggak sudi. Masa terong makan terong…”, umpat suyati.

Tiba-tiba ada suara teriakan dari mamanya suyati.

“SUYATIIIIHHH…! Tolong ituh sayur asemnya dipanasin. Trus kamu ulek tuh sambel. Si papih mo pulang dan bagi-bagi duit THR. CEPET..!!!”.

“ D-U-I-T..?? Siap mamih. 86 laksanakan. Bentar lagi suy kerjakan!”.

Seolah dapat inspirasi, suyati pun membalas ketiga sms tersebut kepada 3 cowok lekong itu: “LAMARAN LO GUE TOLAK. PRET…!!!”.

Sms dikirim. Sepuluh detik kemudian sms tersebut sampai ke hp 3 pengirim tadi. Saat itu adalah malam hari dan hujan turun dengan deras. Saat sms dibuka dan dibaca, ketiga pembaca sms itu lemes seketika. Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa? KENAPAAAAAAAAAA….?????!!!! Teriakan merekapun dijawab oleh gelegar petir dan lampu padam.


TAMAT








Tidak ada komentar:

Posting Komentar