Lagu ini enak gak..?
Sabtu, 17 Agustus 2013
Young and Smart in Fnancial
Anak muda akan tumbuh, semakin dewasa dan suatu saat kebutuhan bukan lagi hanya kebutuhannya sendiri. Yang laki-laki tentu akan memiliki tanggung jawab, yang perempuan akan dituntut menjadi smart financial planner.
Sebuah kebutuhan, kita sadari selama ini sekolah sebenarnya hanya diniatkan untuk mendapat penghidupan yang layak, pelik memang karena dengan begitu kita semua melupakan esensi pencarian ilmu. Dan apa yang telah terimplementasikan dalam otak-otak muda adalah : sekolah yang baik -> lulus -> dan kerja sampai sukses.
Padahal tak semua format harus seperti itu. Sebagai contoh pada masa ini, dimana 2 tahun lalu resesi menimpa amerika, dan tahun lalu telah sampai eropa hingga dinamakan resesi global. Maka runtuhnya ekonomi barat akan berimplikasi ke timur yang indikasi utamanya adalah ke wilayah asia pasifik, yang mayoritas negara maju asia berada di sana. Dan efek domino akan terjadi kepada negara berkembang seperti negara kita. Sebagai contoh penanam modal terbesar di industri indonesia adalah jepang dengan nilai 141 trilyun dollar. Maka bila efek domino sampai ke jepang, runtutannya akan sampai ke indonesia. Atau bila jepang collapse maka industri indonesia pun bisa collapse. Dan tentu penyerapan tenaga kerja kan melemah, malah saya selidiki ada beberapa perusahaan jepang di tangerang yang ingin pindah ke daerah lain yang umr tenaga kerjanya lebih murah.
Polemik memang, kita bertahun-tahun letih bersekolah namun kenyamanan mencari kerja hampir tak ada.
Sebuah sunnah dan ucapan Rasulullah, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sodaranya.
Sebuah prinsip sederhana dalam rimba materialistis. Bila tidak mempekerjakan, maka akan dipekerjakan.
Maka kita ambil lagi, sebuah solusi dari masalah ini adalah sebuah jiwa enterpreneur. Dan Rasulullah adalah pedagang sebelum turunnya wahyu. Sang al amin yang mencari keberkahan bukan nilai, mengutamakan keikhlasan pembeli bukan keuntungan besar.
Sebuah rencana finansial, baik sekali dipikirkan ketika muda. Mau jadi apa kita 10 tahun ke depan. Akankah terus menghabiskan waktu setengah hari untuk bekerja. Atau mengambil kesempatan memperkecil jam kerja, dengan harapan bisa meningkatkan jam ibadah?
Atau ingin bermanfaat bagi saudaranya dengan membuka lapanga kerja? Walau mungkin hanya usaha kecil yang bisa bantu 1 atau 2 saudara?
Ya, finansial pun seperti sebuah bangunan. Bila pondasinya tak kokoh dia akan mudah jatuh.
Kita tak perlu menjadi orang kaya, kita cuma perlu jadi orang yang mampu memberi. Sejauh ini itu pondasi terkuat yang bisa menjadi prinsip kekokohan finansial. Karena menjadi bermanfaat, adalah kenikatan yang belum ada tandingannya dalam rotasi kehidupan.
Banyak orang beralasan, dengan kekayaan dia kan mendapat ketenangan. Itu sangat salah, kecerdasan orang yang mencari harta bukanlah yang ingin meminumkan air laut kepada mulutnya. Bukanlah untuk memenuhi nafsunya karena itu hanya akan melemahkan bangunan finansial justru, karena menuruti nafsu yang tak henti.
Berbeda dengan orang yang 'melepas'. Yang mau berkorban dari apa yang dimilikinya. Kepuasan lahir dan batin akan timbul dari hartanya.
Rejeki telah ditulis di lauh mahfudz, tugas kita hanya menjemput. Maka seperti orang yang membawa bekal dalam perjalanan. Bekal itu akan ada yang bermanfaat, atau sia-sia.
Jadi selagi masih muda, rencanakan, pikirkan.
Think.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar