Lagu ini enak gak..?

Sabtu, 24 Agustus 2013

** Pengantin Kecil **





Namanya Febria Kurniasih.. Seorang gadis kecil berusia 8 tahun kelas 2 SD. Tapi teman-temannya lebih suka memanggilnya Febi. Singkat dan lebih mudah diucapkan. Why..? Katanya sih, karena temen-temennya Febi kebanyakan orang cina yg susah mengucap huruf R.
Siang itu, febi baru pulang sekolah dan tiduran di kamar tidurnya untuk melepas lelah.
 
“Mama, nikah tuh apa..?”, Tanya Febi tiba-tiba kepada mamanya.

Ibu Zhinta, Mamanya febi  yang sedang melipat baju-baju yg baru saja kering diambil dari jemuran, tersenyum dulu sebelum menjawab: “Nikah tuh seperti pesta yg diadakan Mas Rama dan Mbak Ifta tahun lalu, ingat? Seperti mama dan ayah, seperti Om Deyne dan tante Listya. Mereka yang menikah itu, berjanji akan selalu bersama dalam berbagi sehat dan sakit, saling menjaga, saling berbuat baik….”

“Oohhhhhh….”

“Kenapa sayang..?”, mama Zhinta yg lembut bertanya , lalu berjalan pelan mendekati putrinya.

‘Enggak apa-apa kok ma….”, jawab Febi sambil menarik selimut, memeluk boneka Teddy bear-nya, lalu memejamkan mata.

Mama zhinta mengecup kening putrinya dengan lembut dan beranjak keluar dari kamar,
***** *****

Ini gara-gara Ivan !
Ya Ivan. Lelaki berhidung bangir, tetangga desanya sekaligus teman sekolahnya itu kemarin melamar Febi. Saat di pintu kelas, ivan berteriak: “Hey Febi ! kita nikah yuk. Kamu jadi istri aku. Mau kan..??”

“Apaa…?”, Febi berteriak kaget.

Ivan tidak peduli dengan belalakan mata Febi. Dia malah nyengir kuda dan memasukkan jari kelingking tangan kanannya ke lubang hidung, ngupil. Kebiasaan lama Ivan.

“Kamu pikir-pikir aja dulu Feb. sekarang aku mau demo dulu, kamu ikutan yah..?”.

Lalu Ivan pun berdemo didalam kelas. Katanya Ivan gak mau di anggap anak-anak, dan ivan lalu mengajak teman-teman sekelasnya agar berteriak ‘BUKAN’ jika setiapkali Ibu Guru Arie Senja memanggil mereka di kelas dengan sebutan ‘anak-anak’.

Dan hari ini adalah pelajaran pertama, Bu guru Arie Senja pun masuk kelas.
“Selamat pagi anak-anak…”, Sapa Bu Arie yang cantik itu begitu masuk kelas.
“Bukaaaaannnnn…!”, jawab Ivan dengan lantang lalu diikuti teman-temannya.
Bu Arie mengernyitkan kening. “Kenapa menjawab begitu? Hayo anak-anak….”
“Bukaaaaannn….!”

Bu Arie tersenyum agak terpaksa. Membetulkan letak kacamatanya sambil menatap curiga ke seluruh penjuru kelas. "Anak-anak… sekarang Ibu akan…..”

Belum selesai Bu Guru Arie mengucapkan kalimatnya sudah terdengar teriakan:

“BUKAAAAAAAAAAAAAAANNNN…!” kali ini lebih keras dan panjang lalu diikuti tawa cekikikan disana sini. Demo itu ternyata asyik juga, begitu pikir anak-anak.
Dari bangkunya, Ivan tersenyum lebar. Mengepalkan tangan kanannya lalu bergumam: Yess..!

Dan Bu Guru Arie Senja yg melihat sikap Ivan itu mengerti dan paham dengan gelagat muridnya yg satu ini. “Sepertinya pagi ini Ivan harus bercerita, seperti biasa. Ayo Ivan, maju kedepan…!”.

Ivan pun dengan gaya pedenya tanpa malu-malu melangkah ke depan kelas. Lalu bercerita bahwa kemarin dia habis menonton video demonstrasinya orang-orang untuk rakyat Mesir. Ivan mengatakan judul film di videonya itu adalah Save For Egypt ! dan masih kata Ivan, film di video itu memberi inspirasi baginya, yaitu inspirasi untuk berdemo pagi ini di kelas.

Febi kagum sekali pada Ivan. Teman-teman yg lain di kelasnya juga mengagumi Ivan yang berani, pintar, tapi jorok karena suka ngupil. Sejak pertama kenal, Febi sudah tahu bahwa Ivan pintar meskipun suka mengacau di kelas. Itu kata Wiwin, sahabat Febi. Ivan Si Pengacau..itu kata Wiwin selalu.

Ivan memang anak yg cerdas, ia sering punya ide-ide kreatif. Saat pelajaran Seni Musik alias bernyanyi misalnya, Ivan mengusulkan agar semua perkataan yg diucapkan itu dinyanyikan. Ivan mengusulkannya dalam lagu dangdut yang genit dan lucu atau lagu apa saja sehingga kelas langsung setuju. Bu Arie Senja pun senang mendengar ide tersebut. Sangat Kreatif, kata bu guru Arie sambil menjelaskan bahwa kreatif artinya punya banyak ide bagus.

Maka, hari itu ‘Kelas Bernyanyi’ betul-betul penuh nyanyian. Bahkan saat Wiwin diledek ‘Gendut’ oleh Adin Cahyana (dengan nada Rap), Wiwin membalasnya dengan nada dangdut sambil menari-nari dan bernyanyi: “Aahhh biarin ajah, daripada eluuuu…kemaren kentutnya baauuuuuuuu….”.

Lalu saat Tri Yanti diledek oleh Ardi Ahmad Mistura dengan sebutan Si item dengan lagu dangdut yg liriknya ‘Hitam manis oh hitam manis, pandang tak jemu, pandang tak jemu’, maka si Tri pun membalasnya dengan lagu jaipongan ala Indramayu ‘Hay..janganlah tenggelam kalau kau memandang wajahku, janganlah kau mabuk kalau aku sedang tersenyum...’.

Atau saat si Miftakh ditolak cintanya oleh Fitri,  Miftakh malah membalasnya dengan lagu dewa: “Cinta kan membawamuuu, kembali disini menuai rindu membasuh periiiihh….’, dan akhirnya seisi kelas benar-benar dipenuhi tawa membahana. Pelajaran menyanyi yg seru dan sangat mengasyikkan.

Menutur Febi, dengan ide Ivan itu, Ivan terlihat sangat pintar dan lucu. Tapi saat Ivan mengajaknya menikah, febi kaget. Dia suka pada Ivan, suka sekali. Tapi, menikah itu seperti apa? Febi tidak mengerti sama sekali. Makanya Febi bertanya pada mama Zhinta waktu pulang sekolah itu.
*****  ******  *****

Begitu turun dari mobil jemputan, Febi langsung menghampiri Hanna dan Wiwin, teman-temannya bermain, yang melambai dari ayunan.
“Ayo dorong Win, nanti gantian..”, kata Hanna kepada Wiwin. Wiwin mendorong ayunan Hanna dan menghitung dengan suara keras. “Satu… Dua… Tiga… Empat.. Lima…”.

Tapi tiba-tiba Ivan muncul, bersandar di tiang ayunan lalu berkata: “Febi, aku mau ngobrol sama kamu..”.

“Ah Ivan ngeganggu aja! Febi kan lagi maen ayunan tauk!”, teriak febi kesal.

Wiwin ikut merengut: “Pergi sana! Kamu laki-laki main sama anak laki-laki juga, jangan disini mainan anak perempuan!”.

‘Aku kan gak ngajak kamu!”, Ivan mencibir kepada Wiwin. “ Yuk feb..?!”.

Wiwin  berhenti mendorong ayunan.

“Febi, jangan pergi ihhh !”, kata Wiwin manyun. Matanya menatap Ivan dengan galak. “Ivan, kamu nakal! Pengacau! Kemarin kamu merobek kertas lipatku!”

“Enggak sengaja kok. Lagian aku bukan ngerobek, tapi kena tumpahan air”

“Tapi kan jadi robek “

“Ah itu sih karena kertasnya aja yang ketipisan”, jawab Ivan kalem. “Coba kamu pake kayu lipat, kan gak akan robek!”.

“Huh..dasar Pengacau!” Wiwin lalu berlari menuju kelas dan diikuti hanna.

Febi tersenyum pada Ivan. Ivan pun membalas senyumnya. Gigi depannya ompong satu sebelah kiri.

“Eh kamu mau ngomong apa?”, Tanya Febi malu-malu, sambil nahan tawa melihat ompongnya Ivan.

“Aku Cuma mau ngajak nikah lagi sama kamu..” kata Ivan sambil mendorong ayunan. “Kalau aku liat di film sih, nikah tuh biasa-biasa aja kok. Kadang bertengkar, kadang jalan-jalan, kadang Cuma ngobrol atau nonton tivi bareng. Enggak susah kan, mau ya?”

“Tapi aku gak mau bertengkar sama kamu. Kata mama, nikah itu artinya berbagi suka duka, berbagi penyakit juga..”

“Kalau gitu kita maen aja. Aku mau maen sama kamu terus”

“Aku tanya mama dulu ya..?”

“Ya tanyain cepet-cepet. Aku udah enggak sabar pengin cepet nikah sama kamu. Anak-anak udah pada tau aku mau nikah sama kamu, kok mama kamu belum tau sih?”

Febi menunduk malu.

***** ***** *****

“Mama…?”

“Ya cantik, ada apa sayang…?” mama berhenti mengetik diatas keyboard laptopnya, lalu menoleh pada Febi.

“Menurut mama, Ivan nakal enggak..?”

“Siapa yang bilang Ivan nakal..?”

“Wiwin. Kemarin Ivan numpahin air ke kertas lipat Wiwin. Kata Wiwin, Ivan nakal, pengacau. Kata Hanna dan Fitri juga begitu. Ivan suka nyabut rambut Putry dan juga nyembunyiin tempat minumnya Fitry. Kata Ivan, biar Fitry enggak pengin pipis melulu..”

Bu Azhinta, mamanya febi, tersenyum lalu jemarinya kembali pada papan keyboard.

“Ivan juga punya pistol air”, Febi meneruskan. “Dia maen tembak-tembakan pistol air sama Ardi, Adin, dan Badrun. Kemarin juga Hanna nangis ditembak Ardi”.

“Oh yaa..?”

Febi tersenyum. "Iya ma. Hanna ditembak Ivan kena rok seragamnya sebelah belakang. Roknya basah seperti ngompol. Ivan malah ketawa sambil berguling-guling di rumput diikuti anak-anak laki yg lain. Mereka pura-pura jadi ban mobil yg mengelinding mau menabrak Hanna. Hanna marah. Hanna lalu musuhan sama semua anak-anak laki di kelas”.

“Oh yaa..?”

“Tapi ma, Febi gak musuhan kok sama Ivan”

Mama Zhinta Menggeleng-gelengkan kepala.

Febi meneruskan. “Ivan pernah dihukum Bu Arie karena pernah melempar-lempar popcorn ke atas langit-langit kelas. Katanya Ivan sedang main salju popcorn. Bu Arie bilang, enggak baik membuang-buang makanan. Ivan pun dihukum nyapu lantai, tapi Ivan malah jadi tukang sapu seperti kakek-kakek. Dia menyapu lantai lamaaaaaaaa..sekali, sambil membungkuk dan batuk-batuk. Lalu Ardi juga pengin jadi tukang sapu, Miftakh juga, Badrun juga. Akhirnya semua anak laki-laki dikelas jadi tukang sapu seperti kakek-kakek yg bungkuk dan batuk-batuk, mengikuti gaya Ivan…”.

Mama yg mendengar cerita putrinya tertawa kecil.

Febi meneruskan. “Mama, kata Bu Arie, Ivan sangat pintar”.

Yaa, mama Zhinta tahu bahwa Febi menyukai Ivan. Soal ‘kenakalan’ ivan yg terkenal itu, mama juga tahu dan pernah melihat sendiri ketika suatu hari Ivan bermain ikut Bu Arie di awal masa sekolah. Saat itu Bu Arie hampir menangis frustasi karena kemanapun dia pergi saat istirahat, ada belasan bocah lelaki selalu mengikutinya. Anak-anak itu dipimpin oleh Ivan. Mereka berbaris menguntit Bu Arie yg pengin ke kamar mandi, ke ruang Kepala Sekolah, dan menunggui Bu Arie dengan sabar saat lagi makan Bakwan sambil telpon-telponan dengan temannya.
Yaa, kharisma Ivan memang luarbiasa. Menurut mama zhinta, Ivan bakat jadi pemimpin.

“Mama…?”

“Ya sayang..?”

“Kok malah melamun sih? Boleh gak ini Febi nikah sama Ivan..?”

Mama Zhinta menahan senyumnya. “Ivan baik sama Febi kan?”

Febi mengangguk cepat. Karena memang Ivan tak pernah menggangunya.

“Kalu begitu  boleh..!”

"Bener ma..?"

"He em..."

“Yess…!” Febi mengepalkan tangan kanannya dan menghambur memeluk mamanya.

***** ***** *****

Esoknya di halaman sekolah.
“Ivaaannnn, kata mama kita boleh nikah !”

“Horeeeeee….!”. Ivan mengepalkan tinjunya ke atas lalu berlari berputar mengelilingi Febi. Gadis kecil itu bertepuk tangan, melompat-lompat dan tertawa. Hatinya gembira sekali.

“Aku pesawat terbaaaaaannnnnggg….” Ivan berteriak merentangkan kedua tangannya. “Awas semua merunduuukkkk…!”, lalu disabetnya tubuh anak-anak yang lain dengan kedua rentangan tangannya. “Awaaassss ada pesawat terbang lewaaatt…!”.

“Ivan..! kamu nakal. Pengacau…!”, Dita Apriliani berteriak ketika rambut kepangnya tersapu rentangan tangan Ivan. “Aku bilangin Bu Arie nih!”

“Bilangin aja sana, dasar pengadu! Siiiiiiinnngggg…siiiinnnggggg, mingggir semua ada pesawat lewaaatt…”

Febi duduk dibangku dekat taman, menunggu Ivan capek sendiri bermain. Ivan menyusulnya kemudian, datang dengan nafas terengah-engah.

“Kita nikahnya besok saja. Mau ya..?” kata Ivan.

“Mau..!”

“Bener ya besok? Tos dulu dong !”

Mereka tos.

“Setelah kita nikah, aku jemput kamu tiap berangkat sekolah”, Ivan membeberkan rencananya. “Tapi kamu mesti bangun pagi, soalnya mamaku nganterin Kak Nia juga. Kita duduk di kursi belakang sambil nikah. Oke..?”

Febi mengangguk mantap. “Kak nia nakal enggak...?”

“Enggak. Dia baik, tapi cuek. Kerjanya bikin puisi melulu”

“Kalu kamu nanti kerja apa?”

“Aku..?”, Ivan berpikir sebentar. “Aku mau jadi penemu vitamin, semua ada 26 vitamin kan, dari A sampai Z. aku mau cari sisanya. Kalau udah ketemu, aku masukin ke kue lalu kamu makan biar kamu sehat terus”.

Febi tersenyum. Matanya bercahaya.
Ivan menatapnya dengan riang. “aku suka kamu. Mata kamu kayak bintang. Idung kamu kayak jambu. Aku suka jambu dan bintang!”

Febi terkikik mendengar gombalan Ivan.

“Kenapa kamu tertawa?”

“Habis omongan kamu barusan bikin perutku jadi lucu..”

Ivan tertawa senang bisa membuat Febi tertawa. ”Nanti kalu jadi nikah, kamu jadi sapi ya?”

“Hah..? Sapiiiiii..?”

“Iya. Tiap kupanggil, kamu harus menjawab ‘moooooo…”

“Enggak mau ah..!”, Febi tertawa.

“Trus ntar aku jadi ular. Tiap kamu panggil aku, aku akan menjawab ‘sssssshhhhh…”

Febi tertawa.

“Cobain deh, feb..?!”

“Apa…?”

“Salah.  Mestinya kamu jawab ‘moooo…’ “

Febi terkikik. “Aku mau jadi ular aja deh”

“Boleh. Tes dulu yaa. Feb..?”

“Ssssshhhhh….” Febi tertawa ngikik. “Ivan…?”

“Mooooooooo…,” ivan menirukan suara sapi bagus sekali, lebih bagus dari suara sapi malah. Atau jangan-jangan ivan sudah jadi sapi?

“Feb…?”

“Ssssssshhhhh…hihihihi..”, mereka jadi tertawa-tawa sendiri. Ivan Nampak puas.

“kamu jadi ular yg bagus. Nanti kita main-main jadi unicorn juga yah?”

“Unicorn tuh apa..?”, Febi bertanya tak mengerti.

“Unicorn adalah kuda yg bisa terbang. Ada tanduknya, satu, di dahi. Kita beli es krim, lalu cone-nya kita tempelkan di dahi kita”.

“Trus unicorn ngapain aja..?”

“Ya kedinginanlaaahh… mungkin nanti jadi pilek sedikit!”.

****** ***** *****

Hari ini adalah hari yang dijanjikan Ivan kemarin.
Di sekolah, lelaki kecil anak kelas 2 SD itu memberi Febi donat dan mendorongnya berputar di karosel mini, lalu dengan tangkas melompat duduk disebelahnya. Sejak mereka bertemu dipagar sekolah, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya.

“Donat ini buat aku?” Febi tersenyum juga. “Kue nikah kita…?”

“Bukan, itu cincin nikah kita".

“Cincin nikah kok donat..?”

“Orang dewasa berpegangan tangan karena mereka pakai cincin nikah, jadi mereka harus berpegangan terus biar cincinnya enggak ilang atau jatoh. Aku mau nikah sama kamu, tapi aku enggak bisa pegangin kamu terus. Karena aku harus menggambar, maen perang-perangan, ngupil…. Makanya pakai donat aja. Lalu kita makan cincinnya agar enggak ilang!”

Menurut febi, ide itu bagus sekali.
Mereka lalu makan donat bersama sambil merasakan angin keras yg menerpa wajah mereka. Karosel berputar pelan.

Hari ini kebetulan udara agak dingin. Bu Arie memutuskan memanggil anak-anak kelas lebih awal lalu membacakan cerita “Jaring Laba-Laba Spiderman”.
Febi menyimak. Sesekali dia melirik kepada Ivan dari bangkunya, dan ivan juga balas memandang dengan senyum lebar.
Tahu bagaimana perasaan Ivan dan Febi saat itu..? Seperti abis dibelikan baju dan sepatu baru.!


-TAMAT-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar