Namanya Febria Kurniasih..
Seorang gadis kecil berusia 8 tahun kelas 2 SD. Tapi teman-temannya lebih suka
memanggilnya Febi. Singkat dan lebih mudah diucapkan. Why..? Katanya
sih, karena temen-temennya Febi kebanyakan orang cina yg susah mengucap huruf
R.
Siang itu, febi baru pulang sekolah
dan tiduran di kamar tidurnya untuk melepas lelah.
“Mama, nikah tuh apa..?”, Tanya Febi tiba-tiba kepada mamanya.
Ibu Zhinta, Mamanya febi yang sedang melipat baju-baju yg baru saja kering diambil dari jemuran, tersenyum dulu sebelum menjawab: “Nikah tuh seperti pesta yg diadakan Mas Rama dan Mbak Ifta tahun lalu, ingat? Seperti mama dan ayah, seperti Om Deyne dan tante Listya. Mereka yang menikah itu, berjanji akan selalu bersama dalam berbagi sehat dan sakit, saling menjaga, saling berbuat baik….”
“Mama, nikah tuh apa..?”, Tanya Febi tiba-tiba kepada mamanya.
Ibu Zhinta, Mamanya febi yang sedang melipat baju-baju yg baru saja kering diambil dari jemuran, tersenyum dulu sebelum menjawab: “Nikah tuh seperti pesta yg diadakan Mas Rama dan Mbak Ifta tahun lalu, ingat? Seperti mama dan ayah, seperti Om Deyne dan tante Listya. Mereka yang menikah itu, berjanji akan selalu bersama dalam berbagi sehat dan sakit, saling menjaga, saling berbuat baik….”
“Oohhhhhh….”
“Kenapa sayang..?”, mama Zhinta yg
lembut bertanya , lalu berjalan pelan mendekati putrinya.
‘Enggak apa-apa kok ma….”, jawab
Febi sambil menarik selimut, memeluk boneka Teddy bear-nya, lalu memejamkan
mata.
Mama zhinta mengecup kening putrinya
dengan lembut dan beranjak keluar dari kamar,
***** *****
Ini gara-gara
Ivan !
Ya Ivan. Lelaki berhidung bangir, tetangga desanya sekaligus teman sekolahnya itu kemarin melamar Febi. Saat di pintu kelas, ivan berteriak: “Hey Febi ! kita nikah yuk. Kamu jadi istri aku. Mau kan..??”
Ya Ivan. Lelaki berhidung bangir, tetangga desanya sekaligus teman sekolahnya itu kemarin melamar Febi. Saat di pintu kelas, ivan berteriak: “Hey Febi ! kita nikah yuk. Kamu jadi istri aku. Mau kan..??”
“Apaa…?”, Febi berteriak kaget.
Ivan tidak peduli dengan belalakan
mata Febi. Dia malah nyengir kuda dan memasukkan jari kelingking tangan
kanannya ke lubang hidung, ngupil. Kebiasaan lama Ivan.
“Kamu pikir-pikir aja dulu Feb.
sekarang aku mau demo dulu, kamu ikutan yah..?”.
Lalu Ivan pun berdemo didalam kelas.
Katanya Ivan gak mau di anggap anak-anak, dan ivan lalu mengajak teman-teman
sekelasnya agar berteriak ‘BUKAN’ jika setiapkali Ibu Guru Arie Senja
memanggil mereka di kelas dengan sebutan ‘anak-anak’.
Dan hari ini adalah pelajaran
pertama, Bu guru Arie Senja pun masuk kelas.
“Selamat pagi anak-anak…”, Sapa Bu
Arie yang cantik itu begitu masuk kelas.
“Bukaaaaannnnn…!”, jawab Ivan dengan
lantang lalu diikuti teman-temannya.
Bu Arie mengernyitkan kening.
“Kenapa menjawab begitu? Hayo anak-anak….”
“Bukaaaaannn….!”
Bu Arie tersenyum agak terpaksa.
Membetulkan letak kacamatanya sambil menatap curiga ke seluruh penjuru kelas.
"Anak-anak… sekarang Ibu akan…..”
Belum selesai Bu Guru Arie
mengucapkan kalimatnya sudah terdengar teriakan:
“BUKAAAAAAAAAAAAAAANNNN…!” kali ini lebih keras dan panjang lalu diikuti tawa
cekikikan disana sini. Demo itu ternyata asyik juga, begitu pikir anak-anak.
Dari bangkunya, Ivan tersenyum
lebar. Mengepalkan tangan kanannya lalu bergumam: Yess..!
Dan Bu Guru Arie Senja yg melihat
sikap Ivan itu mengerti dan paham dengan gelagat muridnya yg satu ini. “Sepertinya
pagi ini Ivan harus bercerita, seperti biasa. Ayo Ivan, maju kedepan…!”.
Ivan pun dengan gaya pedenya tanpa
malu-malu melangkah ke depan kelas. Lalu bercerita bahwa kemarin dia habis
menonton video demonstrasinya orang-orang untuk rakyat Mesir. Ivan mengatakan
judul film di videonya itu adalah Save For Egypt ! dan masih kata Ivan,
film di video itu memberi inspirasi baginya, yaitu inspirasi untuk berdemo pagi
ini di kelas.
Febi kagum sekali pada Ivan.
Teman-teman yg lain di kelasnya juga mengagumi Ivan yang berani, pintar, tapi
jorok karena suka ngupil. Sejak pertama kenal, Febi sudah tahu bahwa Ivan
pintar meskipun suka mengacau di kelas. Itu kata Wiwin, sahabat Febi.
Ivan Si Pengacau..itu kata Wiwin selalu.
Ivan memang anak yg cerdas, ia
sering punya ide-ide kreatif. Saat pelajaran Seni Musik alias bernyanyi
misalnya, Ivan mengusulkan agar semua perkataan yg diucapkan itu dinyanyikan.
Ivan mengusulkannya dalam lagu dangdut yang genit dan lucu atau
lagu apa saja sehingga kelas langsung setuju. Bu Arie Senja pun senang
mendengar ide tersebut. Sangat Kreatif, kata bu guru Arie sambil menjelaskan
bahwa kreatif artinya punya banyak ide bagus.
Maka, hari itu ‘Kelas Bernyanyi’ betul-betul
penuh nyanyian. Bahkan saat Wiwin diledek ‘Gendut’ oleh Adin
Cahyana (dengan nada Rap), Wiwin membalasnya dengan nada dangdut sambil
menari-nari dan bernyanyi: “Aahhh biarin ajah, daripada eluuuu…kemaren
kentutnya baauuuuuuuu….”.
Lalu saat Tri Yanti diledek oleh Ardi Ahmad Mistura dengan sebutan Si item dengan lagu dangdut yg liriknya ‘Hitam manis oh hitam manis, pandang tak jemu, pandang tak jemu’, maka si Tri pun membalasnya dengan lagu jaipongan ala Indramayu ‘Hay..janganlah tenggelam kalau kau memandang wajahku, janganlah kau mabuk kalau aku sedang tersenyum...’.
Atau saat si Miftakh ditolak cintanya oleh Fitri, Miftakh malah membalasnya dengan lagu dewa: “Cinta kan membawamuuu, kembali disini menuai rindu membasuh periiiihh….’, dan akhirnya seisi kelas benar-benar dipenuhi tawa membahana. Pelajaran menyanyi yg seru dan sangat mengasyikkan.
Lalu saat Tri Yanti diledek oleh Ardi Ahmad Mistura dengan sebutan Si item dengan lagu dangdut yg liriknya ‘Hitam manis oh hitam manis, pandang tak jemu, pandang tak jemu’, maka si Tri pun membalasnya dengan lagu jaipongan ala Indramayu ‘Hay..janganlah tenggelam kalau kau memandang wajahku, janganlah kau mabuk kalau aku sedang tersenyum...’.
Atau saat si Miftakh ditolak cintanya oleh Fitri, Miftakh malah membalasnya dengan lagu dewa: “Cinta kan membawamuuu, kembali disini menuai rindu membasuh periiiihh….’, dan akhirnya seisi kelas benar-benar dipenuhi tawa membahana. Pelajaran menyanyi yg seru dan sangat mengasyikkan.
Menutur Febi, dengan ide Ivan itu,
Ivan terlihat sangat pintar dan lucu. Tapi saat Ivan mengajaknya menikah, febi
kaget. Dia suka pada Ivan, suka sekali. Tapi, menikah itu seperti apa? Febi
tidak mengerti sama sekali. Makanya Febi bertanya pada mama Zhinta waktu
pulang sekolah itu.
***** ****** *****
Begitu turun dari mobil jemputan,
Febi langsung menghampiri Hanna dan Wiwin, teman-temannya
bermain, yang melambai dari ayunan.
“Ayo dorong Win, nanti gantian..”,
kata Hanna kepada Wiwin. Wiwin mendorong ayunan Hanna dan menghitung dengan
suara keras. “Satu… Dua… Tiga… Empat.. Lima…”.
Tapi tiba-tiba Ivan muncul,
bersandar di tiang ayunan lalu berkata: “Febi, aku mau ngobrol sama kamu..”.
“Ah Ivan ngeganggu aja! Febi kan
lagi maen ayunan tauk!”, teriak febi kesal.
Wiwin ikut merengut: “Pergi sana!
Kamu laki-laki main sama anak laki-laki juga, jangan disini mainan anak
perempuan!”.
‘Aku kan gak ngajak kamu!”, Ivan
mencibir kepada Wiwin. “ Yuk feb..?!”.
Wiwin berhenti mendorong
ayunan.
“Febi, jangan pergi ihhh !”, kata
Wiwin manyun. Matanya menatap Ivan dengan galak. “Ivan, kamu nakal! Pengacau!
Kemarin kamu merobek kertas lipatku!”
“Enggak sengaja kok. Lagian aku
bukan ngerobek, tapi kena tumpahan air”
“Tapi kan jadi robek “
“Ah itu sih karena kertasnya aja
yang ketipisan”, jawab Ivan kalem. “Coba kamu pake kayu lipat, kan gak akan
robek!”.
“Huh..dasar Pengacau!” Wiwin lalu berlari
menuju kelas dan diikuti hanna.
Febi tersenyum pada Ivan. Ivan pun
membalas senyumnya. Gigi depannya ompong satu sebelah kiri.
“Eh kamu mau ngomong apa?”, Tanya
Febi malu-malu, sambil nahan tawa melihat ompongnya Ivan.
“Aku Cuma mau ngajak nikah lagi sama
kamu..” kata Ivan sambil mendorong ayunan. “Kalau aku liat di film sih, nikah
tuh biasa-biasa aja kok. Kadang bertengkar, kadang jalan-jalan, kadang Cuma
ngobrol atau nonton tivi bareng. Enggak susah kan, mau ya?”
“Tapi aku gak mau bertengkar sama
kamu. Kata mama, nikah itu artinya berbagi suka duka, berbagi penyakit juga..”
“Kalau gitu kita maen aja. Aku mau
maen sama kamu terus”
“Aku tanya mama dulu ya..?”
“Ya tanyain cepet-cepet. Aku udah
enggak sabar pengin cepet nikah sama kamu. Anak-anak udah pada tau aku mau
nikah sama kamu, kok mama kamu belum tau sih?”
Febi menunduk malu.
***** ***** *****
“Mama…?”
“Ya cantik, ada apa sayang…?” mama
berhenti mengetik diatas keyboard laptopnya, lalu menoleh pada Febi.
“Menurut mama, Ivan nakal enggak..?”
“Siapa yang bilang Ivan nakal..?”
“Wiwin. Kemarin Ivan numpahin air ke
kertas lipat Wiwin. Kata Wiwin, Ivan nakal, pengacau. Kata Hanna dan Fitri juga
begitu. Ivan suka nyabut rambut Putry dan juga nyembunyiin tempat
minumnya Fitry. Kata Ivan, biar Fitry enggak pengin pipis melulu..”
Bu Azhinta, mamanya febi, tersenyum
lalu jemarinya kembali pada papan keyboard.
“Ivan juga punya pistol air”, Febi
meneruskan. “Dia maen tembak-tembakan pistol air sama Ardi, Adin, dan Badrun.
Kemarin juga Hanna nangis ditembak Ardi”.
“Oh yaa..?”
Febi tersenyum. "Iya ma. Hanna
ditembak Ivan kena rok seragamnya sebelah belakang. Roknya basah seperti
ngompol. Ivan malah ketawa sambil berguling-guling di rumput diikuti anak-anak
laki yg lain. Mereka pura-pura jadi ban mobil yg mengelinding mau menabrak
Hanna. Hanna marah. Hanna lalu musuhan sama semua anak-anak laki di kelas”.
“Oh yaa..?”
“Tapi ma, Febi gak musuhan kok sama
Ivan”
Mama Zhinta Menggeleng-gelengkan
kepala.
Febi meneruskan. “Ivan pernah
dihukum Bu Arie karena pernah melempar-lempar popcorn ke atas langit-langit
kelas. Katanya Ivan sedang main salju popcorn. Bu Arie bilang, enggak baik
membuang-buang makanan. Ivan pun dihukum nyapu lantai, tapi Ivan malah jadi
tukang sapu seperti kakek-kakek. Dia menyapu lantai lamaaaaaaaa..sekali, sambil
membungkuk dan batuk-batuk. Lalu Ardi juga pengin jadi tukang sapu, Miftakh
juga, Badrun juga. Akhirnya semua anak laki-laki dikelas jadi tukang sapu
seperti kakek-kakek yg bungkuk dan batuk-batuk, mengikuti gaya Ivan…”.
Mama yg mendengar cerita putrinya
tertawa kecil.
Febi meneruskan. “Mama, kata Bu
Arie, Ivan sangat pintar”.
Yaa, mama Zhinta tahu bahwa Febi
menyukai Ivan. Soal ‘kenakalan’ ivan yg terkenal itu, mama juga tahu dan pernah
melihat sendiri ketika suatu hari Ivan bermain ikut Bu Arie di awal masa
sekolah. Saat itu Bu Arie hampir menangis frustasi karena kemanapun dia pergi
saat istirahat, ada belasan bocah lelaki selalu mengikutinya. Anak-anak itu
dipimpin oleh Ivan. Mereka berbaris menguntit Bu Arie yg pengin ke kamar mandi,
ke ruang Kepala Sekolah, dan menunggui Bu Arie dengan sabar saat lagi makan
Bakwan sambil telpon-telponan dengan temannya.
Yaa, kharisma Ivan memang luarbiasa.
Menurut mama zhinta, Ivan bakat jadi pemimpin.
“Mama…?”
“Ya sayang..?”
“Kok malah melamun sih? Boleh gak
ini Febi nikah sama Ivan..?”
Mama Zhinta menahan senyumnya. “Ivan
baik sama Febi kan?”
Febi mengangguk cepat. Karena memang
Ivan tak pernah menggangunya.
“Kalu begitu boleh..!”
"Bener ma..?"
"He em..."
“Yess…!” Febi mengepalkan tangan
kanannya dan menghambur memeluk mamanya.
***** ***** *****
Esoknya di halaman sekolah.
“Ivaaannnn, kata mama kita boleh
nikah !”
“Horeeeeee….!”. Ivan mengepalkan
tinjunya ke atas lalu berlari berputar mengelilingi Febi. Gadis kecil itu
bertepuk tangan, melompat-lompat dan tertawa. Hatinya gembira sekali.
“Aku pesawat terbaaaaaannnnnggg….”
Ivan berteriak merentangkan kedua tangannya. “Awas semua merunduuukkkk…!”, lalu
disabetnya tubuh anak-anak yang lain dengan kedua rentangan tangannya.
“Awaaassss ada pesawat terbang lewaaatt…!”.
“Ivan..! kamu nakal. Pengacau…!”, Dita
Apriliani berteriak ketika rambut kepangnya tersapu rentangan tangan Ivan.
“Aku bilangin Bu Arie nih!”
“Bilangin aja sana, dasar pengadu!
Siiiiiiinnngggg…siiiinnnggggg, mingggir semua ada pesawat lewaaatt…”
Febi duduk dibangku dekat taman,
menunggu Ivan capek sendiri bermain. Ivan menyusulnya kemudian, datang dengan
nafas terengah-engah.
“Kita nikahnya besok saja. Mau
ya..?” kata Ivan.
“Mau..!”
“Bener ya besok? Tos dulu dong !”
Mereka tos.
“Setelah kita nikah, aku jemput kamu
tiap berangkat sekolah”, Ivan membeberkan rencananya. “Tapi kamu mesti bangun
pagi, soalnya mamaku nganterin Kak Nia juga. Kita duduk di kursi
belakang sambil nikah. Oke..?”
Febi mengangguk mantap. “Kak nia
nakal enggak...?”
“Enggak. Dia baik, tapi cuek.
Kerjanya bikin puisi melulu”
“Kalu kamu nanti kerja apa?”
“Aku..?”, Ivan berpikir sebentar.
“Aku mau jadi penemu vitamin, semua ada 26 vitamin kan, dari A sampai Z. aku
mau cari sisanya. Kalau udah ketemu, aku masukin ke kue lalu kamu makan biar
kamu sehat terus”.
Febi tersenyum. Matanya bercahaya.
Ivan menatapnya dengan riang. “aku
suka kamu. Mata kamu kayak bintang. Idung kamu kayak jambu. Aku suka jambu dan
bintang!”
Febi terkikik mendengar gombalan
Ivan.
“Kenapa kamu tertawa?”
“Habis omongan kamu barusan bikin
perutku jadi lucu..”
Ivan tertawa senang bisa membuat
Febi tertawa. ”Nanti kalu jadi nikah, kamu jadi sapi ya?”
“Hah..? Sapiiiiii..?”
“Iya. Tiap kupanggil, kamu harus
menjawab ‘moooooo…”
“Enggak mau ah..!”, Febi tertawa.
“Trus ntar aku jadi ular. Tiap kamu
panggil aku, aku akan menjawab ‘sssssshhhhh…”
Febi tertawa.
“Cobain deh, feb..?!”
“Apa…?”
“Salah. Mestinya kamu jawab
‘moooo…’ “
Febi terkikik. “Aku mau jadi ular
aja deh”
“Boleh. Tes dulu yaa. Feb..?”
“Ssssshhhhh….” Febi tertawa ngikik.
“Ivan…?”
“Mooooooooo…,” ivan menirukan suara
sapi bagus sekali, lebih bagus dari suara sapi malah. Atau jangan-jangan ivan
sudah jadi sapi?
“Feb…?”
“Ssssssshhhhh…hihihihi..”, mereka
jadi tertawa-tawa sendiri. Ivan Nampak puas.
“kamu jadi ular yg bagus. Nanti kita
main-main jadi unicorn juga yah?”
“Unicorn tuh apa..?”, Febi bertanya
tak mengerti.
“Unicorn adalah kuda yg bisa
terbang. Ada tanduknya, satu, di dahi. Kita beli es krim, lalu cone-nya kita
tempelkan di dahi kita”.
“Trus unicorn ngapain aja..?”
“Ya kedinginanlaaahh… mungkin nanti
jadi pilek sedikit!”.
****** ***** *****
Hari ini adalah hari yang dijanjikan
Ivan kemarin.
Di sekolah, lelaki kecil anak kelas 2 SD itu memberi Febi donat dan mendorongnya berputar di karosel mini, lalu dengan tangkas melompat duduk disebelahnya. Sejak mereka bertemu dipagar sekolah, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya.
Di sekolah, lelaki kecil anak kelas 2 SD itu memberi Febi donat dan mendorongnya berputar di karosel mini, lalu dengan tangkas melompat duduk disebelahnya. Sejak mereka bertemu dipagar sekolah, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya.
“Donat ini buat aku?” Febi tersenyum
juga. “Kue nikah kita…?”
“Bukan, itu cincin nikah kita".
“Cincin nikah kok donat..?”
“Orang dewasa berpegangan tangan
karena mereka pakai cincin nikah, jadi mereka harus berpegangan terus biar
cincinnya enggak ilang atau jatoh. Aku mau nikah sama kamu, tapi aku enggak
bisa pegangin kamu terus. Karena aku harus menggambar, maen perang-perangan,
ngupil…. Makanya pakai donat aja. Lalu kita makan cincinnya agar enggak ilang!”
Menurut febi, ide itu bagus sekali.
Mereka lalu makan donat bersama sambil
merasakan angin keras yg menerpa wajah mereka. Karosel berputar pelan.
Hari ini kebetulan udara agak
dingin. Bu Arie memutuskan memanggil anak-anak kelas lebih awal lalu membacakan
cerita “Jaring Laba-Laba Spiderman”.
Febi menyimak. Sesekali dia melirik kepada Ivan dari bangkunya, dan ivan juga balas memandang dengan senyum lebar.
Febi menyimak. Sesekali dia melirik kepada Ivan dari bangkunya, dan ivan juga balas memandang dengan senyum lebar.
Tahu bagaimana perasaan Ivan dan
Febi saat itu..? Seperti abis dibelikan baju dan sepatu baru.!
-TAMAT-
-TAMAT-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar