Lagu ini enak gak..?

Sabtu, 17 Agustus 2013

Suka-Suka Cinta (bag.2 : DWITA TIFANI)






Original cretaed : Bastian Tito



HARI-HARI libur panjang warung bakso di sudut timur SMA Nusantara III sepi. Mang Asep, si pemilik warung ikutan libur, kabarnya pulang kampong minggu depan. Sekalian nyunatin anak lelakinya paling besar.

Siang itu hanya satu meja yang terisi. Di sekeliling meja duduk Boma, Vino, Firman, Andi, Rio dan satu-satunya cewek, bertubuh hitam gemuk. Itulah Gita. Boma memegang lengan Vino yang dilingkari arloji.

"Hampir jam sebelas. Si Celepuk masih belon nongol." Baru selesai Boma berucap tiba-tiba terdengar pekak deru motor. Sesaat kemudian Ronny Celepuk muncul di pintu warung.

"Uuhhhhhh…!" Enam anak di sekeliling meja meledek.

"Sorry teman-teman," kata Ronny sambil meletakkan helm di atas meja. "Ada kesalahan prosedur!"

"Ajie Busyet! Keren amat omongan lu! Memangnya ada apa Ron?" tanya Boma.

"Aku salah mutar! Maksud gue sih baik. Mau lebih cepat nyampe. Biasa! Kena tilang!" Ronny lalu tertawa lepas.

"Ron, tumben lu pakai helm." Firman nyeletuk.

"Ini yang bikin urusan," sahut Ronny. "Sehari-hari nggak pakai helm nggak ada urusan. Pakai helm malah apes!" Anak ini garuk rambut gondrongnya lalu bertanya. "Gimana, semua udah beres? Persiapan oke?"

"Oke!" jawab Rio.

"Ijin oke?"

"Oke!" sahut Firman.

"Yang belum oke, kita perlu tambahan dana. Takut tekor!" Vino yang bicara. Ronny menarik kursi, lalu duduk di samping Boma.

"Ada lagi yang kagak oke Bom..."

"Maksud lu?" tanya Boma. Semua mata ditujukan pada Ronny.

"Bocor!"

"Apa yang bocor?" tanya Rio.

"Ya, apa yang bocor?" ujar Boma. "Ban motor lu atau pantat lu?!" Tawa meledak di seputar meja. Ronny tidak ikutan ketawa. Tampangnya kelihatan serius. Lalu setengah berbisik dia berkata. "Proyek kita Bom. Proyek GG. Bocor!"

"Maksud lu bocor gimana..?" Boma jadi tidak sabaran.

"Dwita dan Trini tau rencana kita naik Gunung Gede."

Enam mulut ternganga, enam pasang mata menatap lekat-lekat pada Ronny Celepuk. "Ajie busyet! Gimana bisa bocor? Siapa yang kasih tau?" tanya Gita.

"Pasti lu yang ngebocorin!" Andi menuduh Ronny.

"Swear..!" Ronny Celepuk angkat tangan kanannya, dua jari membentuk huruf V. "Ada lagi teman-teman. Dua cewek itu tau kita bakal ngumpul di sini. Mereka mau datang ke sini. Mau minta ikutan...."

Semua mata diarahkan ke pintu warung, terus ke halaman parkir sekolah yang luas, terus lagi ke pintu gerbang di kejauhan sana. Sepi.

"Dari pada acara rusak, gimana kalau kita pindah rundingan di tempat lain," mengusulkan Vino.

"Betul, ke rumah lu aja 'Di," kata Firman sambil memandang pada Andi. "Rumahmu 'kan deket dari sini."

"Tenang teman-teman," Boma bicara. "Nggak perlu pergi ke mana-mana. Kenapa musti takut sama teman sendiri? Kalaupun Dwita atau Trini datang, kita bilang saja mereka tidak bisa ikut. Habis perkara. Beres 'kan?"

"Tapi…," kata Gita si cewek gendut. "Kalau Dwita atau Trini mintanya sambil megangin tangan lu, hati lu pasti lumer!"

Boma menowel hidungnya. "Semua teman kita. Tapi kita bertujuh di sini sudah kompak enggak nambah teman lain ikutan ke Gunung Gede. Oke?!" Boma ulurkan tangan, telapak dikembangkan ke atas. Enam telapak kemudian ditempelkan bersusun. "Okeee!" Enam mulut berseru serempak.

"Bom, Ronny nggak bohong! Starlet merah. Dwita nongol benaran!" Tiba-tiba Vino berkata sambil kepalanya diputar ke arah halaman sekolah. Sebuah Starlet merah meluncur melewati halaman parkir lalu berhenti tepat di depan pintu warung Mang Asep. Pintu kanan terbuka. Keluarlah cewek ramping tinggi semampai, berkulit putih. Rambut hitam sebahu, agak acak-acakan ditiup angin. Kacamata mungil menghiasi wajah yang manis. Celana jin ketat, kemeja jin lengan panjang digulung, dua kancing sebelah atas sengaja dibuka. Inilah Dwita Tifani, kembang baru anak kelas II
SMA Nusantara III. Anak kedua seorang Duta Besar yang enam bulan lalu kembali dari tugasnya di luar negeri.

Sambil melangkahkan kaki yang cuma memakai sandal tebal cewek ini membuka kacamatanya. Sesaat kemudian dia sudah berada di dalam warung, tersenyum di depan meja Boma dan kawan-kawan. Bau wanginya parfum memenuhi warung yang tadinya rada-rada apek itu.

"Rapatnya serius banget. Boleh ikutan nggak?"

"Nggak, eh boleh!" kata Vino bergurau menjawab pertanyaan Dwita.

"Jadi besok kita berangkat?" Dwita berkata, sikap tenang tapi suara serius.

"Kita? Berarti termasuk dia? Ih pede amat tuh cewek.." kata-kata itu hanya diucapkan dalam hati saja oleh tujuh anak yang ada di seputar meja.

Ronny berdiri dari kursinya. "Dwita, duduk dulu. Nggak baek cewek berdiri aja. Nanti kontet kau! Teman-teman, aku tinggal dulu ya?"

"Eh, kau mau kemana Ron?" tanya Boma.
"Aku mau kencing dulu." Ini cuma alasan. Ronny ngacir pergi.

Dwita memandang pada Boma. Matanya bagus bening. Senyumnya mempesona. "Aku boleh ikut 'kan Bom?"

"Astaga, aku lupa belum bayar pisang gorengnya Bang Jalil." Ini juga alasan. Gita Gendut berdiri lalu melangkah ke pintu warung.

Vino mengedipkan matanya pada Firman. Dua anak ini lalu berdiri. "Aku sama Vino cari majalah Aneka dulu, Bom. Ada foto anak om-ku dimuat..." kata Firman lalu menarik tangan Vino. Sama saja. Alasan yang dibuat-buat. Tinggal Rio dan Andi.

"Kalian juga mau kencing? Atau bayar pisang goreng? Atau mau cari majalah?" tanya Boma lalu menowel hidungnya.

"Mungkin semuanya!" jawab Rio. Lalu dia tendang kaki Andi. Dua anak ini keluar dari warung. Sepasang alis mata Dwita sesaat naik ke atas. Lalu anak ini tersenyum. "Teman-temanmu itu. Kok...."

"Teman-temanmu juga..." memotong Boma.

Dwita kembali tersenyum. "Mereka kelihatannya sengaja menghindar. Nggak suka aku ada di sini."

"Hemmmm.... bukan, bukan. Bukan nggak suka. Tapi kayaknya sengaja memberi kesempatan agar kita bisa ngomong berdua aja. Habis selama ini nggak pernah kejadian 'kan? Mereka melihat atau merasa ini satu kejutan. Orang kaget 'kan nggak boleh ditemanin. Nanti bisa latah!"

Dwita tertawa lepas dan letakkan kacamatanya di atas meja. "Aku kan anak baru, Bom. Cuma enam bulan di kelas satu. Lalu naik kelas dua. Takut dibilang rese' kalau suka nyelonong sana nyelonong sini. Salah-salah ada tema yang merasa diinjak kakinya. Benernya sih Dwita ingin dekat sama kamu..."

"Nanti Zaldi marah, mukanya bisa ditekuk lihat aku," kata Boma. Tapi cuma dalam hati.

"Tapi takut nggak enak sama Trini," sambung Dwita.

"Memangnya ada apa sama Trini?" tanya Boma.

"Kabarnya Trini...."

"Udah. Kita ngomong soal lain aja," ujar Boma. "Liburan panjang nggak ikutan tour, home stay...."

"Ah bosan yang gitu-gituan," jawab Dwita. Entah polos entah agak menyombong. "Dwita justru mau ikutan kamu dan teman-teman..."

"Ikutan kemana?" tanya Boma.

Dwita memajukan kepalanya sedikit hingga kemejanya yang tidak terkancing menyibakkan dadanya sebelah atas. Boma merasa hidungnya seolah berhenti bernafas.

"Jangan pura-pura. Aku tau. Kalian 'kan mau naik ke Gunung Gede. Berangkatnya besok...."

"Tau dari mana, dari siapa?" tanya Boma.

"Pokoknya tau aja," jawab Dwita. "Bisa 'kan? Boleh 'kan?"

"Bisa saja, tapi..."

"Wah, gelap deh kalau pakai tapi segala," kata Dwita. "Bilang aja nggak mau ngajak."
"Bukan gitu. Dalam ijin cuma terdaftar tujuh orang. Kalau kau ikutan berarti ijin musti diperbaharui. Urusannya nggak gampang. Lalu kami juga kawatir. Situ 'kan anak pejabat. Kalau ada apa-apa tanggung jawab kami temanteman..."

"Memangnya ada beda anak pejabat sama anak kucing dalam soal mendaki gunung?" tanya Dwita.

"Memangnya anak pejabat nggak boleh naik gunung?" Boma melirik nakal ke dada yang masih tersingkap. Dwita sadar tapi tidak berusaha menutup kemejanya yang terbuka.

"Gini, Dwita, rencana naik gunung ini bukan cuma satu kali. Nanti, kali berikutnya kau, siapa saja pasti kami ajak. Aku janji."

"Gita kok ikut?"

"Dia andalan kami. Dia sebelumnya sudah punya pengalaman naik gunung. Jadi teman-teman nggak
khawatir."

"Oo gitu..."

"Kakaknya anggota Mapala UI. Gita sudah beberapa kali diajak mendaki gunung..."

"Oo gitu..." kata Dwita lagi.

"Lain kali. Aku janji."

"Oo gitu..." ulang Dwita lagi seperti menyindir. Lalu tangannya yang di atas meja meluncur mendekati tangan Boma. Dan persis seperti yang tadi dikatakan Gita. Dwita meremaskan jari-jari tangannya ke lengan Boma. Anak lelaki ini merasa detak jantungnya lebih keras dan aliran darahnya lebih deras.

Di balik dapur bakso Mang Asep, Ronny Celepuk dan lima temannya diam-diam mengintip ke dalam warung.

"Apa gua bilang," bisik Gita gendut. "Terbukti 'kan? Dwita megang tangannya Boma. Pasti lumer hati kawan kita itu!"

"Gile, nggak nyangka. Diem-diem si Dwita agresip juga," kata Vino. "Boma tenang-tenang aja kelihatannya. Hatinya pasti kedat-kedut. Seneng pasti dipegang-pegang..."

"Kalau aku pasti aku balas megang," kata Ronny.

"Lu sih emang celamitan!" sergah Gita.

"Si Boma cuma belagak bodo aja!" menyeletuk Vino.

"Kalau di tempat lain, apa lagi rada-rada gelap, pasti si Dwita udah disangsot...." Muka Vino mengerenyit begitu sikut Gita Gendut menyodok rusuknya.

Di dalam warung.
"Ajie busyet.... Lumer nggak nih.... Lumer nggak nih hati gua!" kata Boma dalam hati. Kembali dia ingat ucapan Dwita tadi.

"Dwita boleh ikut ya?" Suara Dwita Tifani perlahan merdu, memohon manja.

Boma pandangi jari-jari halus yang memegang lengannya. Lalu tersenyum. Boma melirik ke arah dapur warung. Dia ingin balas memegang jari-jari Dwita, tapi tidak dilakukannya. Belum berani. Atau malu ketahuan teman-teman.

"Nah, kau tersenyum. Tandanya boleh 'kan? Asyikkk." Dwita usap-usap lengan Boma.
Kepala Boma menggeleng. Mata Dwita mengecil. Kening mengerenyit.

"Kok?!"

"Aku janji. Kali kedua aku dan teman-teman naik gunung kau pasti aku ajak. Tapi yang sekali ini.... Harap kau mau mengerti..."

"Kalau Dwita nggak mau ngerti?"

Wajah Boma tetap tenang. Tetapi dia tak bisa menjawab. Dwita tersenyum ketika melihat ada keringat memercik di kening Boma dan lengan cowok yang masih berada dalam genggamannya itu terasa dingin.

"Bom, mentang-mentang aku anak kelas lain, nggak satu kelas sama kamu lantas enggak boleh ikutan ya? Gunung Gede cuma buat anak kelas Dua-Sembilan doing ya?"

"Bukan begitu. Gimana aku musti nerangin."

"Kalau nggak boleh ikut ya sudah...." kata Dwita pula. Punggungnya disandarkan ke kursi tapi tangannya masih memegang lengan Boma.

"Kau marah?" tanya Boma.

"Marah, buat apa? Cuma sedih aja."

"Kok sedih?"

"Iyya..."

"Dwita, kalau teman-teman tidak mau kau ikut, bukan berarti mereka nggak suka sama kamu. Bukan karena kau tidak satu kelas dengan kami. Mereka takut kau kenapa-napa. Mereka tidak mau kalau nanti kau sakit. Itu berarti mereka meratiin kamu. Sayang sama kamu..."

"Oo gitu? Terima kasih kalau mereka memang meratiin aku. Terima kasih berat kalau mereka sayang sama aku. Tapi kalau Dwita boleh nanya, itu kan teman-teman. Kau sendiri sayang nggak sama Dwita?"

Tenggorokan Boma bergerak. Setengah tercekik menelan ludah sendiri. Tidak disangka Dwita bertanya seberani itu. Atau cuma sekedar bergurau? Muka Boma berubah merah. Dia coba tersenyum tapi justru wajahnya jadi tambah merah. Apa lagi Dwita menunggu jawaban sambil matanya yang bening bagus memandang tidak berkedip padanya.

"Tenang... tenang Boma. Kau lagi diuji. Kau lagi diuji..." kata Boma dalam hati coba menenangkan diri. "Otakmu boleh geblek tapi hatimu musti tabah! Ini tantangan baru. Ini baru tantangan!"

"Nanti aja kita ketemu dan bicara lagi." Akhirnya Boma berucap.

"Nggak seneng ya Dwita lama-lama di sini? Takut ada yang marah?"

Boma menowel hidungnya.
"Hidung ditowel melulu. Lama-lama bisa copot!" kata Dwita.
Boma hendak menowel lagi tapi urung.

"Oke deh..." Dwita memasukkan tangan kanannya ke saku blue jins. Waktu dikeluarkan ada sehelai amplop dalam pegangannya. Amplop itu diletakkannya di atas meja. Melihat pada bentuk dan ketebalan amplop Boma tahu amplop itu bukan berisi surat. Kalaupun ada suratnya pasti ada sesuatu yang lain.

"Apa-an ini Dwita?" tanya Boma.

"Apa-apa-an apa?" ujar Dwita.

"Itu..." Boma goyangkan kepala ke arab amplop di atas meja.

"Tambahan dana."

"Tambahan dana? Tambahan dana apa?"

"Aku tahu, naik Gunung Gede perlu dana lumayan besar. Hitung-hitung aku ikut nyumbang."

"Jangan Dwita. Semua sudah beres. Termasuk soal dana..."

Boma hendak mengambil amplop di atas meja. Mau dikembalikan pada Dwita. Tapi Dwita cepat memegang lengannya.

"Bom, kalau kau kembalikan, Dwita marah. Beneran Bom! Marah berat! Dwita nggak mau kenal lagi sama kau!"

Di belakang dapur Ronny Celepuk mengomel sendiri.
"Ajie busyet! Dasar anak geblek! Kujitak benjut kepalanya kalau sampai amplop itu dikembaliin!"

"Dwita, aku...."

Kembali ke belakang dapur bakso Mang Asep. Gita yang pertama sekali melihat. Cewek ini menggamit Ronny lalu berkata. "Ron, teman-teman. Liat siapa yang datang!"

Enam pasang mata diputar ke arah pintu warung. Di situ telah berdiri Trini. Rambut dikuncir di atas kepala, baju dari kaos tanpa lengan, singkat menggantung hingga perutnya di atas pinggang blujin tersembul memutih.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar