Lagu ini enak gak..?

Sabtu, 17 Agustus 2013

Suka-Suka Cinta : (Bag. 4 : API DI GUNUNG GEDE)


Original created :  Bastian Tito

HARI KAMIS jam 10.00 pagi.
Setengah jam per-jalanan naik ojek dari Warungkondang rombongan sampai di satu Pos Pengawas. Petugas jaga seorang lelaki berusia lebih 50 tahun memeriksa surat-surat serta perlengkapan yang dibawa rombongan anak-anak
SMA Nu-santara III. Boma mengetes berkomunikasi antara HT yang dibawanya dengan pesawat radio yang ada di pos. Se-belum diizinkan berangkat petugas ini memberi pengarahan.

"Anak-anak, nama Bapak Tatang Suryadilaga." petugas Pos Pengawasan memperkenalkan diri. "Bapak sudah tiga puluh tahun lebih bertugas disini. Melihat
perlengkapan yang kalian bawa, Bapak tidak merasa kawatir. Apalagi
 anak ini, siapa namanya...?"Petugas itu memandang pada satu-satunya cewek dalam rombongan.

"Saya Gita, Pak."

"Apa lagi Gita sudah punya pengalaman mendaki gunung. Malah katanya dua tahun lalu pernahnaik ke puncak Gunung Gede, tapi dari arah sebelah utara. Nah,
walau semua tampak rapi, dan kalian merasa tidak perlu adanya bantuan pemandu, tapi Bapak tetap perlu mem-berikan beberapa pengarahan. Pertama ikuti jalan setapak yang sudah ada. Waktu pulang supaya nggak nyasar, tempuh jalan yang sama. Kedua selalu berada dalam satu barisan, jangan saling terpisah terlalu jauh satu sama lain. Sebaiknya pergunakan tali. Di tengah jalan jangan merusak lingkungan. Dilarang mencabut tanaman, menggali lobang, membunuh binatang dan sebagainya. Selanjutnya selama perjalanan jangan kencing, apa lagi buang hajat besar sembarangan...."

"Pak Tatang," Boma menyorong. "Katanya kalau kencing-nya dibalik pasti aman, nggak kejadian apa-apa."

"Maksudnya dibalik bagaimana?" tanya Pak Tatang sementara teman-teman Boma juga tidak mengerti.

"Maksudnya begini. Cewek kalau kencing kan jongkok. Kalau cowok pasti berdiri. Nah kalau dibalik si cewek kencing berdiri lalu cowoknya kencing jongkok pasti nggak dimarahin makhluk penjaga gunung. Pasti nggak ke-sambet!"

"Konyol lu!" damprat Gita.

"Lu aja coba duluan kencing jongkok, gua mau liat! Bisa nggak?! Rese' amat sih!"

"Dasar Boma Geblek!" ikut mengumpat Firman. Yang lain-lain juga menggerutu.

"Si Boma bukan kencing jongkok, tapi aikiunya (baca IQ) udah jongkok dari dulu alias geblek!" kata Ronny Celepuk. Boma cuma menyengir. Pak Tatang meneruskan pengarahannya yang tadi ter-potong.

"Dalam perjalanan jangan sekali-kali bicara yang bukan-bukan, jangan bicara jorok, atau teriak-teriak nggak karuan, nanti benar-benar bisa tak karuan,
kemasukan. Juga jangan sampai berbuat yang bukan-bukan..." Pak

Tatang Suradilaga tersenyum sambil melirik pada Gita. Maklum arti lirikan itu cewek gendut ini lantas saja membuka mulut.

"Dalam rombongan memang saya satu-satunya cewek Pak. Tapi siapa sih yang mau nyoba-nyoba jahil sama saya? Sekali saya dudukin pasti mejret!"

"Duh soknya!" kata Vino sambil memegang kepala Gita. Pak Tatang tertawa. Lalu meneruskan.

"Gunung Gede merupakan gunung dengan lingkungan paling ramah di Jawa Barat. Tapi salah-salah bisa berubah jadi angker. Itu semua tergantungpada
disiplin kalian para pendaki. Berada di kawasan Gunung Gede sekali-kali jangan takabur. Cuaca sewaktu-waktu bisa berubah tidak terduga. Hari ini hari Kamis. Berarti nanti malam, malam pertama kalian di atas gunung adalah malam
Jum'at...."

Petugas pos pengawasan itu hentikan kata-katanya, me-mandangi wajah tujuh orang anak itu satu persatu. Setelah sadar kalau malam nanti adalah malam Jum'at Boma dan kawan-kawannya jadi terdiam.

"Lho, kalian kok semua kelihatan ketakutan! Malam Jum'at dan malam-malam lainnya sama saja, nggak ada beda. Yang penting ikuti semua petunjuk
saya. Kalian kembali hari apa?" Pak Tatang meneliti kembali surat peng-antar dan izin pendakian yang ada di mejanya.


"Paling lambat Minggu sore Pak," jawab Boma.

"Yang jadi pimpinan...?"

"Saya Pak," kata Boma.

"Siapa namanya? Oo ini," Pak Tatang memperhatikan kembali surat di atas meja.

"Boma Tri Sumitro. Nama hebat. Anak ini apa putranya Pak Sumitro
mantan Jenderal atau Pak Sumitro pakar ekonomi yang terkenal itu..."

Yang menjawab Ronny. "Gini Pak, ayah teman saya ini namanya memang Sumitro, Pak. Cuman bukan Sumitro Jenderal atau Sumitro ahli ekonomi itu.
Tapi Sumitro tukang sablon!"

"Dasar celepuk! Brengsek lu!" maki Boma. Kakinya ber-gerak menendang ke arah tulang kering Ronny. Untung Ronny Celepuk cepat menjauhkan kakinya.
Kalau tidak lumayan sakitnya kena tendang. Pak Tatang tertawa lebar. Teman-teman Boma yang lain mesem-mesem menahan geli.

Sejak pensiun sebagai Pegawai Negeri Departemen Penerangan, Sumitro Danurejo, ayah Boma memang mem-buka usaha sablon di rumahnya.

"Satu lagi perlu saya beritahu," Pak Tatang. "Menurut laporan stasiun pengawas cuaca, kemungkinan besar men-jelang sore nanti akan turun hujan. Jadi sebelum malam sebaiknya kalian mencari tempat yang baik untuk mem-buat kemah. Kalau kehujanan di tengah jalan, usahakan untuk berhenti. Pergunakan taliagar tidak
terpisah." Pak Tatang memandang pada Boma.

"Usahakan kontak tiga jam sekali lewat radio."

"Baik Pak."

"Pak, di Gunung Gede ada binatang buasnya nggak?" bertanya Firman.

"Ah, lu nanya yang kagak-kagak Fir!" kata Boma. "Bikin si Gita jadi pengen kencing aja!" Gita langsung menggebuk bahu Boma.

"Misalnya binatang buas apa?" Pak Tatang bertanya.

"Misalnya macan..."

Pak Tatang menggeleng. "Mungkin, mungkin ada macan atau harimau. Tapi sejauh ini belum pernah me-nampakkan diri atau mengganggu para pendaki..."


"Kalaupun ada macan, kita-kita ini rasanya bakalan aman. Yang diincer pasti Gita yang dagingnya banyak. Empuk, masih perawan lagi..." kata Vino membuat semua temannya dan Pak Tatang tertawa sedang Gita unjukkan tampang cemberut sambil tangannya nyelonong mau men-jewer kuping Vino. Vino cepat selamatkan diri dengan me-rundukkan kepala lalu menekap kuping.

"Saya sudah memeriksa ransel kalian satu persatu. Tidak ada obat terlarang. Tapi mungkin, siapa tahu kalian membawanya sembunyi-sembunyi. Diumpetin...?"

"Boleh geledah Pak!" jawab Vino.

"Gita duluan Pak!"

"Ah lu lagi! Brengsek lu!" Gita cemberut.


"Maaf Pak, saya memang bawa obat Pak," Ronny Celepuk tiba-tiba berkata.Wajahnya serius. Gayanya seperti orang bersalah. Boma dan teman,
temannya yang lain jadi terkejut.

"Gila, sejak kapan anak itu suka nenggak obat. Kok ngakunya baru sekarang-sekarang kacau urusan!" Gita berkata sambil memandang pada Boma lalu
kembali per-hatikan Ronny. Pak Tatang jadi ikutan serius.

Saat itu terdengar Ronny menyambung ucapannya. "Tapi bukan obat terlarang Pak. Cuma menyan!"

"Geblek!" maki Gita.

"Sontoloyo!" gerutu Rio.

"Ajie gombal lu!" sungut Andi. Pak Tatang masih bisa tertawa lega walau agak pencong.

"Pak Tatang," kata Gita.

"Sebelum pergi kita berdoa dulu. Biar selamet semua..."

"Itu bagus. Memang dalam segala hal selain usaha kita sendiri jangan lupa mengingat dan minta pertolongan pada Tuhan. Anak-anak, mari kita berdoa sesuai agama masing-masing".

Selesai berdoa Boma dan kawan-kawannya menyalami Pak Tatang lalu meninggalkan Pos Pengawasan. Rombong-an bergerak ke arah barat laut, menuju kaki gunung ter-dekat.


-------------------------


HARI MINGGU, larut malam. 

Pak Tatang petugas Pos Pengawas duduk gelisah di kursi reyot dalam
kantornya. Menurut Boma, yang jadi pimpinan rombongan pendaki gunung yang berangkat hari Kamis lalu, dia dan kawan-kawan akan kembali paling lambat sore hari Minggu itu.

Sekarang sudah tengah malam. Boma dan kawan-kawan-nya belum turun.
Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat Pak Tatang merasa gelisah.

Pada hari Sabtu siang ada kontak lewat radio dari rombongan pendaki gunung SMA Nusantara III. Ini terjadi pada jam 13.20. Menurut Boma mereka
bersiap-siap turun dari puncak Gunung Gede.

Sesuai petunjuk Pak Tatang rombongan akan menempuh jalan yang sama
waktu naik sebelumnya. Tapi di satu tempat gerak turun rombongan terhalang oleh hujan sangat lebat. Sepanjang sore dan malam hari Pak Tatang
berusaha mengadakan kontak lewat radio. Tak ada jawaban dari Boma atau anggota rombongan anak-anak SMA Nusantara III.


Hari Senin sebenarnya Pak Tatang tidak giliran jaga. Yang bertugas di Pos Pengawasan adalah wakilnya, se-orang anak muda bernama Sambas. Tapi pagi-pagi sekali Pak Tatang sudah nongol.

"Lho, kok datang Pak?" tanya Sambas.

"Tadi malam saya tidak bisa tidur. Saya kawatir. Rombongan anak-anak SMA Nusantara Tiga itu. Apa dik Sambas sudah coba mengontak?"

"Sudah tiga kali Pak. Tak ada jawaban..."

"Coba sekali lagi. Saya mau dengar." Sambas mengambil mikropon radio komunikasi.

"Nusantara Tiga, Nusantara Tiga. Silahkan masuk. Di sini Pos Satu. Pos Satu memanggil..."

Diam. Di radio hanya ada suara kresek-kresek.


"Nusantara Tiga, masuk. Nusantara Tiga masuk. Pos Satu memanggil..." Sambas mengulangi panggilan lalu meletakkan mikropon ke sangkutannya.

"Kita tunggu saja Pak. Mereka mungkin dalam perjalanan. Mungkin baterai hate yang mereka bawa sudah soak. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Kita tunggu saja Pak."

"Ya, memang begitu harapan saya. Tapi terus terang saya ini, entah mengapa kok merasa kawatir. Sore kemarin di gunung turun hujan lebat. Sampai malam.
Komunikasi putus. Tadi malam saya mimpi tidak enak..."

"Bapak mimpi apa?" tanya Sambas.

"Saya mimpi melihat api di puncak Gunung Gede."

"Api di puncak Gunung Gede?" Sambas ingat sesuatu.

"Dik Sambas ingat cerita saya tempo hari?"

"Ya... ya, saya ingat Pak."

"Tiga tahun lalu, suatu malam saya mimpi melihat api di puncak Gunung Gede. Beberapa hari kemudian diketahui rombongan mahasiswa dari Bandung yang
mendaki Gunung Gede mengalami musibah. Dari enam orang yang naik, lima meninggal dunia. Lalu setahun kemudian saya mimpi yang sama. Menyusul kabar empat orang anak STM dari Bogor tewas, mayatnya ditemul sudah kaku di salah
satu lereng. Malam tadi saya mimpi lagi. Melihat api di puncak Gunung Gede... Saya kawatir kalau-kalau musibah yang sama akan terulang lagi..."

"Kita mohon saja pada Yang Kuasa Pak. Semoga Tuhan melindungi anak-anak SMA Nusantara Tiga itu," kata Sambas pula.

Tatang Suryadilaga terdiam, merenung sejenak. Sesaat kemudian dia berkata. "Dik Sambas, saya pulang dulu. Saya sama Ibu ada urusan ke Sukabumi. Nanti
sore saya kembali ke sini. Kalau ada berita penting supaya mem-beritahu ke rumah. Kalau saya belum kembali tinggalkan pesan."

"Baik Pak," jawab Sambas.

--------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar